Kompas.com - 11/06/2019, 07:07 WIB

WASHINGTON, KOMPAS.com - Kedutaan besar Amerika Serikat dilarang mengibarkan bendera pelangi, lambang kebanggaan kaum gay, di tiang bendera.

Larangan yang diberlakukan untuk seluruh kantor kedutaan besar AS di seluruh dunia itu sesuai dengan arahan dari Menteri Luar Negeri Mike Pompeo, demikian dikonfirmasi Departemen Luar Negeri, Senin (10/6/2019).

Pompeo sebelumnya sempat mengatakan bahwa dirinya mendefinisikan sebuah pernikahan sebagai bersatunya seorang pria dan wanita dalam ikatan suami istri. Meski demikian dia juga mengaku menghormati setiap karyawan terlepas dari masalah orientasi seksualnya.

"Menteri Luar Negeri telah menyampaikan sikapnya bahwa tiang bendera hanya boleh digunakan untuk mengibarkan bendera Amerika," kata juru bicara Departemen Luar Negeri Morgan Ortagus, kepada wartawan.

Baca juga: Muda dan Gay, Mengapa Pete Buttigieg Disebut Potensial Pimpin AS?

Kendati demikian, Ortagus menambahkan bahwa para diplomat AS di luar negeri bebas untuk menampilkan bendera pelangi di tempat lain, selain di tiang bendera, di lingkungan kedutaan besar.

Pengibaran bendera pelangi sebagai simbol kebanggaan kaum gay dilakukan selama bulan Juni, yang disebut sebagai "Pride Month" atau "Bulan Kebanggaan".

Peringatan bulan Kebanggaan tahun ini sekaligus menandai 50 tahun pemberontakan Stonewall di New York, yang disebut sebagai pemicu gerakan hak-hak gay modern.

"Bulan kebanggaan, di mana kita sekarang berada, dirayakan di seluruh dunia dan oleh banyak pegawai di Departemen Luar Negeri," tambah Ortagus, dikutip AFP.

Instruksi Menlu AS kali ini berbeda dengan semasa pemerintahan Presiden Barack Obama, yang membebaskan kedutaan besar AS untuk mengibarkan bendera pelangi dan bahkan menyalakan lampu beraneka warna di Gedung Putih saat Mahkamah Agung mengesahkan pernikahan sesama jenis di seluruh negeri pada 2015.

Diumumkannya instruksi Menlu AS, yang pertama kali dilaporkan pekan lalu oleh NBC News, telah memicu kemarahan di antara pendukung hak-hak gay.

Baca juga: Mengaku Pernah Jadi Gay, Ucapan Kontroversial Duterte Tuai Kemarahan

Halaman:


Video Pilihan

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.