Menlu AS Larang Pengibaran Bendera Pelangi di Kedutaan Besar

Kompas.com - 11/06/2019, 07:07 WIB
Bendera pelangi terlihat berkibar di depan gedung kedutaan besar AS di Berlin, pada Juni 2016. AFP / JOHN MACDOUGALLBendera pelangi terlihat berkibar di depan gedung kedutaan besar AS di Berlin, pada Juni 2016.

WASHINGTON, KOMPAS.com - Kedutaan besar Amerika Serikat dilarang mengibarkan bendera pelangi, lambang kebanggaan kaum gay, di tiang bendera.

Larangan yang diberlakukan untuk seluruh kantor kedutaan besar AS di seluruh dunia itu sesuai dengan arahan dari Menteri Luar Negeri Mike Pompeo, demikian dikonfirmasi Departemen Luar Negeri, Senin (10/6/2019).

Pompeo sebelumnya sempat mengatakan bahwa dirinya mendefinisikan sebuah pernikahan sebagai bersatunya seorang pria dan wanita dalam ikatan suami istri. Meski demikian dia juga mengaku menghormati setiap karyawan terlepas dari masalah orientasi seksualnya.

"Menteri Luar Negeri telah menyampaikan sikapnya bahwa tiang bendera hanya boleh digunakan untuk mengibarkan bendera Amerika," kata juru bicara Departemen Luar Negeri Morgan Ortagus, kepada wartawan.

Baca juga: Muda dan Gay, Mengapa Pete Buttigieg Disebut Potensial Pimpin AS?

Kendati demikian, Ortagus menambahkan bahwa para diplomat AS di luar negeri bebas untuk menampilkan bendera pelangi di tempat lain, selain di tiang bendera, di lingkungan kedutaan besar.

Pengibaran bendera pelangi sebagai simbol kebanggaan kaum gay dilakukan selama bulan Juni, yang disebut sebagai "Pride Month" atau "Bulan Kebanggaan".

Peringatan bulan Kebanggaan tahun ini sekaligus menandai 50 tahun pemberontakan Stonewall di New York, yang disebut sebagai pemicu gerakan hak-hak gay modern.

"Bulan kebanggaan, di mana kita sekarang berada, dirayakan di seluruh dunia dan oleh banyak pegawai di Departemen Luar Negeri," tambah Ortagus, dikutip AFP.

Instruksi Menlu AS kali ini berbeda dengan semasa pemerintahan Presiden Barack Obama, yang membebaskan kedutaan besar AS untuk mengibarkan bendera pelangi dan bahkan menyalakan lampu beraneka warna di Gedung Putih saat Mahkamah Agung mengesahkan pernikahan sesama jenis di seluruh negeri pada 2015.

Diumumkannya instruksi Menlu AS, yang pertama kali dilaporkan pekan lalu oleh NBC News, telah memicu kemarahan di antara pendukung hak-hak gay.

Baca juga: Mengaku Pernah Jadi Gay, Ucapan Kontroversial Duterte Tuai Kemarahan

"Saat komunitas LGBTQ+ di seluruh dunia menghadapi penganiayaan, kebijakan Departemen Luar Negeri di bawah pemerintahan Trump ini telah menjadi serangan terang-terangan terhadap hak-hak LGBTI," tulis Senator Ed Markey dari Massachusetts, di akun Twitter-nya.

"Saat kita merayakan Bulan Kebanggaan, keputusan itu harus dibatalkan. Saya menuntut pemerintahan Trump untuk memberikan penjelasan atas tindak kebencian ini," tambahnya.

Instruksi Menlu AS itu muncul di saat sejumlah kedutaan besar AS di seluruh dunia ikut merayakan Bulan Kebanggaan. Salah satunya di New Delhi, yang diterangi warna pelangi sebagai tanda solidaritas.

Di bawah pemerintahan Trump, salah satu pejabat gay paling menonjol adalah Duta Besar AS untuk Jerman, Richard Grenell, yang memimpin kampanye untuk mengakhiri penganiayaan terhadap kaum gay.

Baca juga: Wawancarai Pria Gay, Penyiar TV di Mesir Dihukum Penjara

Menangkan Samsung A71 dan Voucher Belanja. Ikuti Kuis Hoaks / Fakta dan kumpulkan poinnya. *S&K berlaku


Sumber AFP
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kerusuhan India: Kisah Pria yang Dipukuli karena Berjenggot dan Pakai Gamis

Kerusuhan India: Kisah Pria yang Dipukuli karena Berjenggot dan Pakai Gamis

Internasional
Dampak Virus Corona, Cathay Pacific dan Singapore Airlines Liburkan Pegawainya Tanpa Dibayar

Dampak Virus Corona, Cathay Pacific dan Singapore Airlines Liburkan Pegawainya Tanpa Dibayar

Internasional
Arab Saudi Tangguhkan Visa Umrah, Ini Negara Tetangganya yang Positif Virus Corona

Arab Saudi Tangguhkan Visa Umrah, Ini Negara Tetangganya yang Positif Virus Corona

Internasional
Kerusuhan India, 23 Orang Tewas dalam Demo Menentang UU Kewarganegaraan

Kerusuhan India, 23 Orang Tewas dalam Demo Menentang UU Kewarganegaraan

Internasional
23 Orang Tewas di Kerusuhan India, tapi Ada Juga Demo yang Berlangsung Sunyi

23 Orang Tewas di Kerusuhan India, tapi Ada Juga Demo yang Berlangsung Sunyi

Internasional
Keturunan WNI Tanpa Identitas di Malaysia Bertemu Ibu Kandung Setelah 15 Tahun

Keturunan WNI Tanpa Identitas di Malaysia Bertemu Ibu Kandung Setelah 15 Tahun

Internasional
Mahathir Mohamad Merasa Belum Waktunya Mundur

Mahathir Mohamad Merasa Belum Waktunya Mundur

Internasional
Korban Meninggal karena Virus Corona di Iran Bertambah Empat, Total Ada 19

Korban Meninggal karena Virus Corona di Iran Bertambah Empat, Total Ada 19

Internasional
Mahathir Mohamad Ingin Bentuk Pemerintahan yang Pro pada Kepentingan Nasional

Mahathir Mohamad Ingin Bentuk Pemerintahan yang Pro pada Kepentingan Nasional

Internasional
Virus Corona, Perancis Umumkan Kematian Pertama dari Warga Negaranya

Virus Corona, Perancis Umumkan Kematian Pertama dari Warga Negaranya

Internasional
Pertama Kalinya, Liga Sepak Bola Putri Arab Saudi Diluncurkan

Pertama Kalinya, Liga Sepak Bola Putri Arab Saudi Diluncurkan

Internasional
Cerita Warga Codogno, Kota Berjuluk 'Wuhannya Italia', di Tengah Wabah Virus Corona

Cerita Warga Codogno, Kota Berjuluk "Wuhannya Italia", di Tengah Wabah Virus Corona

Internasional
Kerusuhan New Delhi Kian Mencekam, Total 20 Orang Tewas

Kerusuhan New Delhi Kian Mencekam, Total 20 Orang Tewas

Internasional
Wabah Virus Corona, Ritual Rabu Abu di Filipina Berubah

Wabah Virus Corona, Ritual Rabu Abu di Filipina Berubah

Internasional
Tentara AS yang Bertugas di Korea Selatan Terinfeksi Virus Corona

Tentara AS yang Bertugas di Korea Selatan Terinfeksi Virus Corona

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X