Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

8 April 1879, Saat Susu Dijual dalam Botol untuk Kali Pertama..

Kompas.com - 08/04/2019, 14:41 WIB
Aswab Nanda Prattama,
Bayu Galih

Tim Redaksi

Sumber Wired

KOMPAS.com - Pengemasan susu terus mengalami perkembangan. Saat ini, ada yang dalam kemasan botol kaca, botol plastik, kaleng, hingga saset. Ini mempermudah seseorang mengonsumsi susu.

Namun, era modern penjualan susu tercatat pada 8 April 1879. Ketika itu susu untuk kali pertama dijual dalam kemasan botol kaca. Selain untuk menjamin kesehatan, kemasan ini dinilai lebih efisien dan terlihat bersih.

Dilansir dari Wired, sebelum susu dijual dalam botol kaca, biasanya perusahaan penjual susu menyediakan dan menuangkannya dalam wadah yang dibawa pembeli.

Jadi pembeli mendatangi penjual susu keliling dengan membawa kendi, ember, gelas, wadah apa pun yang mereka miliki sebagai wadah susu tersebut.

Kondisi inilah yang mengakibatkan beberapa perusahaan susu merevolusi penjualannya dengan menyediakan wadahnya sendiri. Sebab, mereka menganggap wadah yang dibawa oleh pembeli tak terlalu bersih dan higenis.

Baca juga: Minum Susu Protein, Sebelum atau Sesudah Olahraga?

Perusahaan pertama

Aneka botol susu dari Echo Farms Dairy redlegagenda Aneka botol susu dari Echo Farms Dairy

Perusahaan Susu Echo Farm Dairy yang beralamat di New York City, Amerika Serikat (AS) menjadi yang pertama dalam melakukan pengemasan susu dalam botol.

Mereka memulai dengan mengemasnya dalam botol sendiri dan mengantarnya ke pembeli di sekitar Litchfield, Connecticut. Perusahaan susu lainnya belum tertarik untuk mengikuti, karena biaya dan kerusakan botol yang besar.

Metode baru ini akhirnya mendapat nilai positif dari pelanggan. Mereka menilai hal ini lebih bersih dan lebih segar.

Botol untuk mengemas susu memiliki banyak desain, termasuk dengan model yang memiliki loop kawat pada ujungnya. Biasanya, setelah mendapatkan botol, pembeli akan menuangkannya ke dalam gelas.

Karena susu memiliki umur simpan yang pendek, konsumen harus mengonsumsinya dengan cepat. Mereka akan mengembalikan botol susu ketika mereka pergi ke pasar atau ketika susu segar dikirim ke rumah mereka oleh tukang susu sebagai penggantinya.

Seiring dengan daya tarik konsumen yang mulai meningkat, beberapa perusahaan susu mulai melirik cara ini. Seiring berjalannya waktu, konsep ini juga menular ke beberapa negara dunia.

Baca juga: Tidak Semua Produk Susu Itu Susu Asli, Kenali Bedanya

Kendala dan perbaikan

Ilustrasi susu UHTShutterstock Ilustrasi susu UHT
Ketika sistem pendistribusian susu ke masyarakat sudah lancar, kendala muncul. Banyak botol yang harus pecah, hilang, hingga dialihkan ke orang lain karena tak sesuai nama pelanggan.

Pada awal penggunaan, botol biasanya digunakan hingga 25 kali sebelum harus diganti karena pecah.

Selain itu hilangnya botol dengan biaya pengembalian ke pabrik pembotolan membutuhkan biaya yang juga tak murah. Apalagi, pabrik susu harus membayar untuk mensterilkan botol setelah pemakaian konsumen.

Biaya yang mahal terkadang juga menjadikan pabrik susu tak membersihkan botol-botolnya. Akibatnya, konsumen mulai merasa tak nyaman akan kebersihan dan kesehatan, ketika melihat susu-susu pesanannya di truk.

Lebih buruk lagi, ada tukang susu yang membagi 1 liter susu ke dalam dua botol yang belum dibersihkan, hanya untuk memenuhi pesanan pelanggan. Hal inilah yang menyebabkan pembotolan mendapatkan kritikan keras dari konsumen.

Ilustrasi susu kemasanThinkstock.com/Noel Hendrickson Ilustrasi susu kemasan

Permasalahan ini mengarah pada pengembangan wadah sekali pakai. Wadahnya berbentuk kotak, silinder hingga piramida yang terbuat dari kertas/karton tebal. Wadah ini dinilai ringan dan hemat tempat ketika berada di truk susu.

Pada 1950-an, wadah ini mengalami perbaikan dengan bentuk yang lebih ekonomis agar susu mudah dituangkan.

Sampai saat ini, pengemasan menggunakan karton masih digunakan dan tersedia bebas di beberapa toko. Selain itu, juga ada botol plastik untuk mengemas susu.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Baca tentang
Sumber Wired
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com