Kompas.com - 07/12/2018, 17:58 WIB

CARACAS, KOMPAS.com - Krisis sosioekonomi yang terjadi di Venezuela berdampak bagi warga yang hendak memakamkan kerabatnya.

Hiperinflasi yang pada November lalu mencapai 150.000 persen tidak saja membuat warga kesulitan membeli peti mati maupun membangun makam.

Baca juga: Kepada IMF, Venezuela Laporkan Inflasi 860 Persen Pada 2017

Sebagaimana diwartakan Reuters via Newsweek Kamis (6/12/2018, warga sempat beralih dengan memanfaatkan jasa kremasi.

Namun, tingginya permintaan kremasi membuat penyedia layanan kesulitan mendapatkan gas propana, dan membuat harganya naik 108 persen pada pekan ini.

Karena itu, warga yang tak bisa menguburkan kerabatnya secara layak memilih membaringkan jenazah di sebuah kuburan tak bertanda di ujung pemakaman.

Seperti yang dilakukan oleh warga asal Negara Bagian Zulia bernama Angelica. Perempuan 27 tahun tersebut baru saja kehilangan ayahnya.

Vera yang bekerja sebagai petugas kasir tak punya uang untuk membangun makam bagi ayahnya yang meninggal. "Apa yang kami alami benar-benar rendah," keluhnya.

Ketika mendiang Presiden Hugo Chavez berkuasa, harga minyak dunia yang tinggi membuat Venezuela bergelimang dollar AS, dan membuatnya untuk menjalankan program bagi warga miskin.

Namun setelah Chavez meninggal dan posisinya digantikan sang wakil Nicolas Maduro pada 2013, harga minyak mulai terjun.

Mismanajemen produksi minyak, depresiasi mata uang Bolivar, kekurangan obat dan makanan, serta kekerasan membuat tiga juta rakyat Venezuela mengungsi sejak 2015.

Di tengah upaya membangun kembali ekonominya, pekan ini Maduro mengunjungi Rusia dan bertemu dengan Presiden Vladimir Putin.

Putin sepakat untuk menanamkan investasi pada produksi minyak dan gas sebesar 6 miliar dollar AS, atau sekitar Rp 86,9 triliun.

Baca juga: Maduro: Rusia Investasi Rp 87 Triliun pada Minyak dan Emas Venezuela

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Sumber Newsweek
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.