Kompas.com - 16/10/2018, 12:28 WIB
Para siswa Sekolah Nomor 8 di desa Sartana, Ukraina melakukan latihan bagaimana melindungi diri saat terjadi serangan bom. AFP/ALEKSEY FILIPPOVPara siswa Sekolah Nomor 8 di desa Sartana, Ukraina melakukan latihan bagaimana melindungi diri saat terjadi serangan bom.
|

KIEV, KOMPAS.com - Puluhan anak-anak meringkuk di ruang bawah tanah sambil menutupi kepala dengan kedua tangan mereka. Anak-anak itu mempraktikkan hal-hal yang harus dilakukan jika sekolah mereka menjadi target serangan.

Anak-anak ini berada di wilayah timur Ukraina tempat konflik bersenjata yang pecah sejak 2014 sudah menewaskan setidaknya 10.000 orang.

Alhasil, latihan menghadapi perang dan berlindung dari serangan bom menjadi bagian dari keseharian ratusan sekolah yang berada tak jauh dari garis depan pertempuran.

Baca juga: Gudang Senjata di Ukraina Meledak, 10.000 Orang Dievakuasi

Salah satunya adalah Sekolah Nomor 8 di Desa Sartana yang berjarak hanya 10 kilometer dari garis depan.

Saat alarm tanda bahaya berbunyi, anak-anak itu dengan tenang berjalan menuju ke ruang bawah tanah mengikuti tanda panah berwarna biru yang sudah disiapkan pihak sekolah.

"Kami memiliki sinyal khusus, tiga bel singkat untuk kebakaran dan satu suara bel panjang jika terjadi pengeboman," kata Olena Lyskonog (14) salah seorang murid sekolah itu.

"Kami sering menjalani latihan semacam ini, sehingga kami tidak panik saat pengeboman sesungguhnya terjadi," tambah Olena.

Di sekolah itu, para murid menjalankan latihan menghadapi pengeboman sekali dalam sebulan. Setiap kelas bahkan memiliki bunker sendiri yang sudah dilengkapi berbagai keperluan untuk menghadapi situasi darurat.

Perjanjian gencatan senjata memang mengurangi frekuensi pertempuran dalam perang yang pecah menyusul aneksasi Rusia terhadap Semenanjung Crimea pada 2014.

Meski demikian, pertempuran bukan sama sekali berhenti. Roket dan pengeboman tetap menjadi ancaman sejumlah desa seperti Sartana, yang berada di daerah kekuasaan pemerintah Kiev tetapi amat dekat dengan wilayah yang dikuasai kelompok separatis dukungan Rusia.

Sekolah yang berada di kawasan Donetsk itu sudah berulang kali terkena bom. Namun, sang kepala sekolah Lyudmila Korona mengatakan, ruang bawah tanah sekolah itu merupakan "tempat paling aman di Sartana".

Baca juga: Presiden Ukraina Bakal Tagih Rusia Biaya Perang Rp 724 Triliun

Selama dua tahun terakhir, desa itu tak menjadi sasaran pengeboman. Meski demikian kehidupan masyarakatnya masih jauh dari kata normal.

"Mereka masih sering menembaki kawasan di dekat kami, kami mendengarnya siang dan malam," ujar Olena, sang murid.

Halaman:


Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X