Kompas.com - 17/04/2018, 14:05 WIB
Rapia Komonde mengenakan atasan berwarna biru (tengah) bersama keluarganya di pulau Thursday Island sebelum ditahan Australian Border Force. (Aaron Smith/Torres News) Rapia Komonde mengenakan atasan berwarna biru (tengah) bersama keluarganya di pulau Thursday Island sebelum ditahan Australian Border Force. (Aaron Smith/Torres News)

BRISBANE, KOMPAS.com - Seorang nenek asal Papua Niugini, Rapia Komonde, kini ditahan di Brisbane, Queensland, Australia, setelah mendatangi Pulau Saibai untuk mendapatkan perawatan medis.

Rapia dibawa oleh suaminya dari desa terpencil di Papua Niugini ke pusat medis di Pulau Saibai, Selat Torres, pada Februari lalu, karena menderita usus buntu.

Wanita berusia 55 tahun itu lalu diterbangkan ke Thursday Island dan kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Cairns. Kemudian, dia malah dimasukkan ke Penampungan Imigrasi Brisbane oleh petugas Satuan Perbatasan Australia (ABF).

Baca juga : Insiden Hiu Gigit Pria Bikin Kompetisi Selancar di Australia Ditunda

Anggota DPR dari wilayah setempat, Warren Entsch mengatakan dalam sejumlah kasus sebelumnya, warga Papua Niugini yang mencari perawatan di Australia kerap menolak kembali ke negaranya.

"Saya masih berusaha memperjelas mengapa dia datang ke Brisbane. Namun saya telah berbicara dengan kantor Menteri Dalam Negeri. Saya sampaikan dengan jelas bahwa ini perlu kita selesaikan," kata Entsch.

"Saya mendengar, dia meminta untuk tetap berada di Cairns karena masih bekas operasi di perutnya. Tampaknya dia khawatir jika pulang lebih awal dan diharuskan kembali bekerja di kebun. Dia merasa tidak sanggup melakukannya," ujarnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Rapia Komonde menjelaskan dirinya bukanlah seorang penjahat.

"Saya datang karena alasan medis. Tapi mereka mengirim saya ke Brisbane. Mengapa?" katanya.

"Saya belum pernah pergi ke wilayah selatan sejauh ini. Saya hanya pernah sekali ke Thursday Island sebelumnya," tambahnya.

Baca juga : Warga Australia Diteror Suara Berisik Ribuan Burung

Rapia berasal dari Desa Sigabaduru, yang tercakup dalam Perjanjian Selat Torres. Perjanjian ini memungkinkan warga setempat melakukan perjalanan antara Papua Niugini dan Selat Torres di Australia tanpa paspor.

Perawatan medis sebenarnya tidak termasuk bagian dari perjanjian ini, namun secara umum tidak dipermasalahkan oleh Departemen Kesehatan Queensland dan Departemen Luar Negeri Australia.

Sementara, ABF yang telah dihubungi, belum memberikan tanggapan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.