Kompas.com - 10/01/2018, 14:48 WIB
EditorErvan Hardoko

Dalam situs Kementerian Komunikasi dan Informasi, pemerintah mengklaim telah menyalurkan bantuan sekitar 1 juta dolar AS untuk Palestina.

Dana itu disebut tidak termasuk dana ditujukan untuk program pembangunan sumber daya manusia, yang telah diikuti sekitar 1.364 warga Palestina hingga awal 2016.

Bagaimanapun, kata Muhammad Luthfi, pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia, pemerintah perlu berperan lebih besar untuk Palestina, terutama setelah Trump mewacanakan penghentian donor.

Di tengah keterbatasan anggaran pemerintah untuk Palestina, kata Luthfi, selama ini lembaga donor publik seperti Aksi Cepat Tanggap (ACT) dan PKPU, telah menyalurkan sumbangan masyarakat dalam nominal yang besar.

Baca juga : Setelah Pakistan, Trump Ancam Putus Bantuan ke Palestina

Menurut Luthfi, pemerintah harus mulai memasok data tentang jenis kebutuhan mendesak dan lokasi penduduk Palestina yang tak dapat memenuhi keperluan mendasar mereka.

"Sekarang kelas menengah Indonesia sudah mencapai 120 juta orang, dana masyarakat banyak sekali. Jadi harus ada koordinasi antara donatur publik dan pemerintah agar bantuan lebih terarah," kata Luthfi.

Namun Luthfi mengingatkan agar pemerintah hanya menjadi penyedia data dan bukan penghimpun sumbangan mengingat publik kerap menjauhi program pengumpulan bantuan yang digelar pemerintah karena isu penyelewengan dana.

Juru bicara ACT, Lukman Azis Kurniawan, menyebut warga Palestina selalu kesulitan mendapatkan bahan pangan karena akses mereka dibatasi Israel.

Lembaga mereka kini mengelola dapur umum di Palestina yang membagikan 500 hingga 2.000 porsi makanan setiap hari.

Pengalaman yang sama juga dialami PKPU, yang bersama Inisiatif Zakat Indonesia, mendistribusikan bantuan makanan untuk ribuan pasien di Rumah Sakit Indonesia dan Rumah Sakit Dar Al Shifa di Gaza.

Baca juga : Palestina Panggil Utusannya untuk Organisasi Pembebasan di AS

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.