Kompas.com - 27/11/2017, 15:16 WIB
|
EditorVeronika Yasinta


YANGON, KOMPAS.com - Pemimpin umat Katolik Roma Sedunia, Paus Fransiskus, telah tiba di Myanmar pada Senin (27/11/2017), di tengah kecaman global terhadap negara tersebut akibat aksi "pembersihan etnis" minoritas etnis Rohingnya.

Terlihat umat Katolik menggunakan pakaian tradisional yang berwarna-warni mengibarkan bendera, dan menari di Bandara Internasional Yangon, menyambut kedatangan paus dengan sukacita.

Namun, pertanyaannya, akankah Paus akan menggunakan kata "Rohingya" selama kunjungannya di Myanmar?

Sinyal dari Vatikan mengenai perjalanan itu masih beragam. Juru bicara Vatikan diketahui menggunakan istilah "Rohingya" dalam penjelasan pra-kunjungan dan menyebutnya sebagai kata yang tidak dilarang, sejauh menyangkut kepentingan Vatikan.

Baca juga : Dorong Penyelesaian Krisis Rohingya, Paus Fransiskus ke Myanmar

Namun diplomat tertinggi Tahta Suci, Menteri Luar Negeri Vatikan, Kardinal Pietro Parolin, justru menghindari istilah tesebut dalam sebuah wawancara dengan media Vatikan sebelum perjalanan.

Pemerintah Myanmar dan sebagian mayoritas penganut Buddha menganggap etnis Rohingya sebagai imigran Bengali dari Banglades yang tinggal secara ilegal di Myanmar, meskipun Rohingya telah tinggal selama beberapa generasi.

"Ini akan menjadi situasi yang sulit (jika menggunakan istilah 'Rohingya'). Saya pikir kebanyakan orang tidak akan menerimanya," kata seorang petani Myanmar, Win Myaing.

Seorang warga lainnya, Kyaw Thu Maung mengatakan masalah ini sulit karena istilah "Rohingya" membawa begitu banyak beban politik bagi semua orang Myanmar.

Baca juga : Paus Fransiskus Dijadwalkan Bertemu Pengungsi Rohingya di Bangladesh

"Menurut saya, jika Paus akan membicarakan masalah Rakhine, orang-orang tidak akan menyukai Paus lagi," katanya.

Kedatangan Paus Fransiskus ke Myanmar merupakan kunjungan pertama pimpinan Katolik Roma ke negara dengan umat mayoritas Buddha itu.

Paus akan singgah di Myanmar selama empat hari, mencoba menekan Myanmar untuk menghentikan aksi kekerasan terhadap etnis minoritas, yang disebut Paus sebagai saudara di setiap doa yang dipanjatkannya.

Paus Fransiskus akan bertemu dengan pemimpin sipil Myanmar Aung San Suu Kyi. Pria berusia 80 tahun itu juga bakal mengadakan pembicaraan dengan panglima militer Myanmar Min Aung Hlaing.

Baca juga : Paus Fransiskus Lelang Lamborghini yang Dihadiahkan Untuknya

Kunjungan Fransiskus juga menjadi kesempatan bersejarah bagi umat Katolik Myanmar untuk bertemu dengan kepala gereja mereka.

Sekitar 700.000 warga Myanmar atau 1 persen dari total 51 juta penduduk merupakan penganut Katolik.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.