Aung San Suu Kyi Tolak Tim Pencari Fakta PBB di Myanmar

Kompas.com - 03/05/2017, 12:57 WIB
Pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi dan kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Federica Mogherini dalam jumpa pers di Brussels, Belgia, Senin (1/5/2017). EMMANUEL DUNAND / AFPPemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi dan kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Federica Mogherini dalam jumpa pers di Brussels, Belgia, Senin (1/5/2017).
EditorErvan Hardoko

BRUSSELS, KOMPAS.com - Aung San Suu Kyi, Selasa (2/5/2017), menolak keputusan dewan HAM PBB untuk melakukan investigasi terkait dugaan kekerasan militer Myanmar terhadap minoritas Rohingya.

Pada Maret lalu, badan PBB ini sepakat untuk mengirimkan misi pencari fakta ke Myanmar terkait adanya tuduhan pembunuhan, pemerkosaan, dan penyiksaan yang dilakukan tentara di negara bagian Rakhine.

"Kami tak setuju dengan itu (misi pencari fakta)," ujar Suu Kyi, pemimpin de facto Myanmar, dalam jumpa pers dengan kepala kebijakan Uni Eropa Federica Mogherini di Brussels.

"Kami sudah menarik diri dari resolusi karena kami pikir resolusi itu bisa sejalan dengan apa yang terjadi di lapangan," tambah dia.

Baca: Bertemu Aung San Suu Kyi, Jokowi Ingin Ada Kedamaian di Rakhine

Peraih Nobel perdamaian itu mengatakan, Myanmar harus menerima dengan "gembira" rekomendasi yang dibuat sesuai dengan "kebutuhan kawasan".

"Namun, berbagai rekomendasi yang semakin memecah belah dua komunitas di Myanmar tak bisa kami terima. Sebab, rekomendasi itu tak membantu penyelesaian masalah yang selalu muncul," tambah dia.

Bintang Suu Kyi sebagai pejuang hak-hak orang tertindas mulai pudar setelah dia tak bersuara terkait perlakuan terhadap warga minoritas Rohingya.

Padahal, banyak kelompok pembela HAM mengatakan ratusan orang warga Rohingya dibunuh dalam operasi militer selama satu bulan di Rakhine menyusul adanya serangan maut terhadap sebuah pos polisi.

Akibatnya, sekitar 75.000 warga Rohingya mengungsi ke Banglades di mana nasib mereka di negeri itu juga tak lebih baik.

Meski demikian, Suu Kyi bersikukuh membantah bahwa dia atau pemerintah Myanmar secara sengaja membiarkan kekerasan tersebut.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber AFP
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Di Turki, Risma Cerita soal Kelucuan Bonek

Di Turki, Risma Cerita soal Kelucuan Bonek

Internasional
Australia Bersiap Hadapi Hari Terpanas dalam Sejarah

Australia Bersiap Hadapi Hari Terpanas dalam Sejarah

Internasional
Ketahuan Berhubungan Seks dengan Pria Lain, Istri Tewas Ditembak Suaminya

Ketahuan Berhubungan Seks dengan Pria Lain, Istri Tewas Ditembak Suaminya

Internasional
Istri Terlalu Boros, Pria di India Bunuh Diri

Istri Terlalu Boros, Pria di India Bunuh Diri

Internasional
Pria 70 Tahun Tewas Dipukul Batu Bata, Polisi Hong Kong Tahan 5 Remaja

Pria 70 Tahun Tewas Dipukul Batu Bata, Polisi Hong Kong Tahan 5 Remaja

Internasional
Korea Utara Kembali Gelar 'Tes Krusial'

Korea Utara Kembali Gelar "Tes Krusial"

Internasional
Pukul dan Hantamkan Kepala Remaja ke Tanah, Polisi Ini Dipecat

Pukul dan Hantamkan Kepala Remaja ke Tanah, Polisi Ini Dipecat

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Jurnalis China Dimaafkan Netizen karena Fotonya Beredar | Arab Saudi Cabut Aturan Pisahkan Pria dan Wanita

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Jurnalis China Dimaafkan Netizen karena Fotonya Beredar | Arab Saudi Cabut Aturan Pisahkan Pria dan Wanita

Internasional
Bocah 3 Tahun Gores 10 Mobil Mewah, Si Ayah Diminta Ganti Rugi Rp 140 Juta

Bocah 3 Tahun Gores 10 Mobil Mewah, Si Ayah Diminta Ganti Rugi Rp 140 Juta

Internasional
Larang Murid Punya Rambut Poni, Sekolah di Thailand Jadi Sorotan

Larang Murid Punya Rambut Poni, Sekolah di Thailand Jadi Sorotan

Internasional
Bantu Ibunya Lolos Tes Menyetir, Pria Ini Menyamar Jadi Perempuan

Bantu Ibunya Lolos Tes Menyetir, Pria Ini Menyamar Jadi Perempuan

Internasional
Komite DPR AS Setujui 2 Pasal Pemakzulan untuk Trump

Komite DPR AS Setujui 2 Pasal Pemakzulan untuk Trump

Internasional
Salah Buat Berita, Jurnalis China Ini Dimaafkan Netizen Setelah Fotonya Beredar

Salah Buat Berita, Jurnalis China Ini Dimaafkan Netizen Setelah Fotonya Beredar

Internasional
Diselundupkan ke AS, Warga China Dimasukkan Dalam Mesin Cuci

Diselundupkan ke AS, Warga China Dimasukkan Dalam Mesin Cuci

Internasional
Ratusan Pengacara Serang Rumah Sakit di Pakistan, 3 Pasien Meninggal

Ratusan Pengacara Serang Rumah Sakit di Pakistan, 3 Pasien Meninggal

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X