Kompas.com - 06/04/2017, 10:11 WIB
Penasihat Negara dan Menteri Luar Negeri Myanmar Aung San Suu Kyi (tengah) berjalan melewati pasukan kehormatan Thailand setibanya di Bandara Suvarnabhumi, Bangkok, Kamis (23/6/2016). Associated PressPenasihat Negara dan Menteri Luar Negeri Myanmar Aung San Suu Kyi (tengah) berjalan melewati pasukan kehormatan Thailand setibanya di Bandara Suvarnabhumi, Bangkok, Kamis (23/6/2016).
EditorGlori K. Wadrianto

KOMPAS.com - Aung San Suu Kyi membantah terjadinya pembersihan etnis minoritas Muslim Rohingya di Myanmar. Menteri Luar Negeri Myanmar ini pun menyebut istilah tersebut "terlalu keras".

Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan BBC, pemenang Nobel perdamaian itu mengakui ada masalah di negara bagian Rakhine, lokasi kebanyakan orang Rohingya tinggal.

Namun,  dia mengatakan, pembersihan etnis atau genosida adalah istilah yang "terlalu keras" untuk digunakan dalam situasi di sana.

Sebaliknya, pemimpin de-facto Myanmar itu mengatakan, mereka akan menyambut kembali setiap orang Rohingya, dengan tangan terbuka.

"Saya kira, tidak terjadi pembersihan etnis di sana. Saya pikir pembersihan etnis adalah istilah yang terlalu keras untuk digunakan dalam menggambarkan apa yang terjadi," kata dia.

"Permusuhan itu memang ada -terjadi juga Muslim yang membunuh Muslim, jika mereka berpikir ada Muslim yang bekerja sama dengan pihak berwenang," sambungnya.

"Ini bukan soal pembersihan etnis seperti yang Anda istilahkan. Itu adalah masalah tentang orang-orang di dua sisi berbeda yang terpecah, dan keterpecahan inilah yang kami berusaha rekatkan," kata Suu Kyi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kaum Rohingya tak diakui kewarganegaraannya di Myanmar yang juga dikenal sebagai Burma.

Sebab, mereka dipandang sebagai imigran ilegal dari Banglades. Mereka menderita diskriminasi rutin dari para pejabat resmi dan masyarakat umum.

Puluhan ribu warga Rohingya tinggal di kamp-kamp darurat setelah mengungsi akibat kekerasan tahun 2012.

Dalam beberapa bulan terakhir, sekitar 70.000 orang telah melarikan diri ke Banglades untuk menghindari operasi militer pemerintah di Rakhine, pasca tewasnya sembilan polisi dalam sebuah serangan.

Bulan lalu PBB mengumumkan akan melakukan penyelidikan atas dugaan bahwa militer telah menyasar warga Rohingya secara acak selama operasi militer, menjadikan mereka sebagai obyek pemerkosaan, pembunuhan dan penyiksaan.

Pemerintah setempat telah membantah tuduhan ini.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.