Kompas.com - 14/04/2016, 18:59 WIB
|
EditorPascal S Bin Saju

Pengumuman Nkurunziza itu memicu upaya kudeta, namun gagal. Kekerasan politik, yang mengarah kepada etnis, meningkat menjadi kekerasan permanen.

Setiap hari terjadi pembunuhan, dengan lebih dari 100 orang melarikan diri setiap hari ke perbatasan Tanzania.

Mereka bergabung dengan 250.000 orang lebih yang telah lebih dahulu mengungsi ke Tanzania, Rwanda, Uganda, dan Republik Demokratik (RD) Kongo pada akhir tahun lalu.

Kam-kamp pengungsi penuh sesak dan kekurangan makanan. Bantuan sangat terbatas, penderitaan meningkat, korban tewas berjatuhan, dan penyakit mematikan juga menghantui pengungsi.

"Mereka mengambil uang kami, mengalahkan kami dan bertanya, 'Apakah kalian tidak mendukung presiden'?" kata Kigeme Kabibi, seorang ibu berusia 30 tahun yang melarikan diri setelah suaminya ditembak mati di Burundi.

Warga Burundi di perantauan menyebut negaranya telah berubah menjadi sebuah neraka bagi kemanusiaan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.