Kompas.com - 18/03/2016, 19:24 WIB
EditorGlori K. Wadrianto
IRBIL, KOMPAS.com — Seorang warga negara Amerika Serikat keturunan Timur Tengah yang sempat bergabung dengan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) mulai membuka suaranya.

Sebelumnya, pemuda berusia 26 tahun bernama Mohamad Jamal Khweis ini menyerahkan diri kepada pasukan Kurdi di Irak utara, awal pekan lalu.

Menurut Jamal, dalam wawancara yang telah diedit dan disiarkan stasiun televisi Irak-Kurdi, pilihannya bergabung dengan ISIS adalah sebuah keputusan yang buruk.

Dalam wawancara yang diudarakan pada Kamis malam, seperti dikutip kantor berita AP, Jumat (18/3/2016), Jamal bercerita mengenai pengalaman panjangnya hingga bergabung bersama ISIS.

Dia mengaku mengawali perjalanan dari Alexandria, Virginia, AS, ke London di Inggris, Amsterdam di Belanda, dan kemudian ke Turki. Selanjutnya, dia masuk ke Suriah, dan terakhir bergabung di wilayah pusat ISIS di Mosul, Irak.

Di Mosul, dia dipindahkan ke sebuah rumah yang berisi lusinan pejuang dari berbagai negara lain. Seluruh perjalanan itu dia lakukan dalam waktu berminggu-minggu.

Jamal mengaku bertemu dengan seorang wanita Irak yang menghubungkannya dengan ISIS, serta memandu perjalanannya melalui Suriah dan menyeberang ke Mosul.

Di tempat itu, Jamal mendapat pelajaran intensif tentang Islam selama lebih dari satu bulan. Namun, selanjutnya dia memutuskan untuk melarikan diri.

"Saya tidak setuju dengan ideologi mereka," kata Jamal.

"Saya sudah membuat pilihan yang buruk dengan pergi bersama wanita itu ke Mosul," ungkap dia lagi.

Jamal mengaku, seorang teman membantunya untuk lolos dari Mosul menuju Tal Afar. Dari tempat itulah dia bisa menuju lokasi pasukan Kurdi.

"Saya memang ingin mengarah ke pihak Kurdi karena saya tahu mereka berhubungan baik dengan Amerika," sambungnya.

"Pesan saya untuk warga Amerika, hidup di Mosul sangat buruk, dan mereka tidak merepresentasikan Islam secara benar," tegas dia.

Berdasarkan data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), saat ini ada sekitar 30.000 pejuang asing yang ada di Mosul.

Mereka berasal setidaknya dari 100 negara, dan bergabung aktif dengan ISIS maupun kelompok teroris Al Qaeda, serta grup radikal lainnya.

Hasil penelitian terakhir dari The International Center for the Study of Radicalization mengungkap, ada 3.300 pejuang ISIS dari Eropa barat dan sekitar 100 pejuang dari AS.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.