Kompas.com - 13/02/2014, 11:48 WIB
EditorTjahjo Sasongko

MELBOURNE, KOMPAS.com — Sebuah komunitas Australia dikejutkan dengan tragedi mengerikan yang terjadi di lapangan kriket saat seorang ayah membunuh putranya sendiri yang baru berusia 11 tahun.

Tragedi bertambah mengerikan setelah si pelaku kemudian terpaksa ditembak oleh polisi di hadapan semua orang yang datang, termasuk anak-anak yang menjadi teman korban.

Si anak, Luke Batty, tewas di tempat setelah kepalanya dipukul dengan menggunakan bat (alat pemukul kriket) seusai berlatih bersama klubnya di Lapangan Tyabb, Semenanjung Mornington, 100 kilometer sebelah tenggara Melbourne, Rabu (12/2/2014).

Ia mengalami cedera parah di bagian kepala dan juga disebut mengalami luka tusuk. Polisi yang datang menemukan ayah si anak masih memegang pisau. Setelah upaya menghentikannya dengan menggunakan bubuk merica gagal, polisi terpaksa menembaknya di bagian dada.

Si pelaku dibawa ke rumah sakit, tetapi meninggal dunia pada Kamis (13/2/2014) pagi. "Kami pastikan bahwa pelaku yang kami tembak adalah ayah si anak dan dialah pelaku tunggal kejadian ini," kata kepala polisi, Doug Fryer.

"Kematian seorang anak selalu mengerikan. Saya tidak tahu bagaimana perasaan si ibu menghadapi peristiwa ini," ungkap Fryer. "Saya tidak bisa menjelaskan atau menggambarkan penyebab kematian si anak atau kejadian penembakan si ayah. Polisi bagian pembunuhan sedang melakukan penyelidikan peristiwa ini."

Polisi menjelaskan, pihaknya tengah memeriksa beberapa saksi yang menyaksikan kematian Luke Batty, termasuk beberapa rekan setimnya bersama orangtua.

Adapun Tyabb adalah permukiman kecil dengan hanya 3.300 penduduk. Kedua orangtua Luke disebut memang tengah memperebutkan hak asuh putra tunggal mereka ini. Sementara ayahnya adalah seorang penganggur yang tinggal di mobil. "Saat ini adalah masa yang paling mengguncang dan mencekam buat kami semua, buat keluarga dan lingkungan," lanjut Fyer.

Penduduk setempat mengungkap rasa kesedihan dan simpati mereka dengan menempatkan bunga di sekitar lapangan kriket tempat kematian Luke. "Bagaimana bisa Anda menyakiti seorang anak yang baru berusia 11 tahun?" tanya Taylor Cuthbertson (15). Ia menyebut seorang temannya menyaksikan peristiwa itu dan mengalami trauma hingga kini.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.