Perwira Militer AS Pembunuh 13 Orang Dihukum Mati

Kompas.com - 29/08/2013, 11:37 WIB
Pengadilan militer AS menjatuhkan hukuman mati untuk Mayor Nidal Hassan (42) yang melakukan serangan maut di Fort Hood, Texas pada 2009 lalu yang menewaskan 13 orang dan melukai 30 orang lainnya. AFPPengadilan militer AS menjatuhkan hukuman mati untuk Mayor Nidal Hassan (42) yang melakukan serangan maut di Fort Hood, Texas pada 2009 lalu yang menewaskan 13 orang dan melukai 30 orang lainnya.
EditorErvan Hardoko
WASHINGTON, KOMPAS.com — Para juri di pengadilan militer Amerika Serikat menjatuhkan hukuman mati terhadap seorang perwira angkatan darat AS yang membunuh 13 orang di pangkalan militer Fort Hood, Texas.

Setelah pertimbangan singkat, ketua juri pengadilan militer mengatakan juri sepakat untuk menjatuhkan hukuman mati untuk Mayor Nidal Hasan (42).

"Ini adalah tugas saya sebagai ketua juri untuk memberitahukan bahwa dalam pemungutan suara yang dilakukan secara rahasia, semua anggota juri menyepakati hukuman mati," kata juri perempuan berpangkat kolonel itu.

Nidal Hassan, yang tidak menggunakan pengacara dalam proses persidangan ini, tidak memanggil saksi atau memberi kesaksian. Saat vonis dibacakan, dia hanya duduk di kursi rodanya dan memandang ke arah juri.

Sepanjang proses persidangan, pria berdarah Palestina itu tidak berupaya membantah tuduhan, dan pengacara yang ditunjuk pengadilan mengungkapkan rasa frustrasi karena Hassan malah menanti hukuman mati.

Sesuai hukum militer AS, vonis hukuman mati secara otomatis langsung dievaluasi dalam sebuah prosedur banding yang keputusannya akan memakan waktu bertahun-tahun.

Permohonan banding bisa dilakukan lewat pengadilan sipil dan eksekusi tetap harus mendapatkan persetujuan presiden Amerika Serikat.

Nidal Hassan adalah anggota angkatan bersenjata pertama yang mendapatkan vonis hukuman mati sejak 2005, dan belum pernah ada anggota militer yang dieksekusi mati sejak 1961.

Pada 5 November 2005, Hasan menembaki sebuah fasilitas kesehatan di pangkalan militer Fort Hood, Texas. Aksi Hasan ini menewaskan 13 orang dan melukai 30 orang lainnya.

Aksi Hasan terhenti setelah seorang polisi menembak dia yang mengakibatkan pria itu kini mengalami kelumpuhan.

Dalam sidang, sejumlah bukti menunjukkan Hasan menentang intervensi militer AS di Irak dan Afganistan.

Dia juga terbukti melakukan percakapan lewat internet dengan seorang tokoh Al Qaeda, yaitu Anwal al-Awlaki, yang tewas akibat serangan drone di Yaman.

Setelah vonis ini, Hasan akan ditempatkan di sel terpidana mati khusus anggota militer di Fort Leavenworth, Kansas, untuk menunggu eksekusinya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Polemik Transisi Kekuasaan Mahathir, Anwar Ibrahim Minta Perdebatannya Dihentikan

Polemik Transisi Kekuasaan Mahathir, Anwar Ibrahim Minta Perdebatannya Dihentikan

Internasional
Singapura Umumkan Kasus Pertama Virus Corona

Singapura Umumkan Kasus Pertama Virus Corona

Internasional
Alarm Kebakaran Menyala, 59 Penerbangan di Bandara Changi Terganggu

Alarm Kebakaran Menyala, 59 Penerbangan di Bandara Changi Terganggu

Internasional
Ludahi Pizza Pelanggan, Pria di Turki Terancam Dipenjara 18 Tahun

Ludahi Pizza Pelanggan, Pria di Turki Terancam Dipenjara 18 Tahun

Internasional
Cegah Penyebaran Virus Corona, 2 Kota di China Ditutup

Cegah Penyebaran Virus Corona, 2 Kota di China Ditutup

Internasional
Hadapi Virus Corona, Singapura Isolasi Pengunjung China yang Terkena Penumonia

Hadapi Virus Corona, Singapura Isolasi Pengunjung China yang Terkena Penumonia

Internasional
Kisah Pengantin Pesanan di China: Terpaksa Hamil agar Bisa Pulang ke Indonesia

Kisah Pengantin Pesanan di China: Terpaksa Hamil agar Bisa Pulang ke Indonesia

Internasional
Pesawat Hercules C-130 Jatuh Saat Padamkan Kebakaran Hutan di Australia, 3 Orang Tewas

Pesawat Hercules C-130 Jatuh Saat Padamkan Kebakaran Hutan di Australia, 3 Orang Tewas

Internasional
Ingin Pulang ke Myanmar, Pembantu Ini Celupkan Tangan Anak Majikan ke Air Mendidih

Ingin Pulang ke Myanmar, Pembantu Ini Celupkan Tangan Anak Majikan ke Air Mendidih

Internasional
Jenderal AS Sebut ISIS Bakal Bangkit jika Mereka Keluar dari Irak

Jenderal AS Sebut ISIS Bakal Bangkit jika Mereka Keluar dari Irak

Internasional
Manajer Sidang Pemakzulan: Trump Menipu guna Menangi Pilpres AS 2020

Manajer Sidang Pemakzulan: Trump Menipu guna Menangi Pilpres AS 2020

Internasional
Pemakzulan Trump: Demokrat Tolak Tawaran 'Pertukaran Saksi'

Pemakzulan Trump: Demokrat Tolak Tawaran "Pertukaran Saksi"

Internasional
Tak Sengaja Berikan Kunci Mobil Saat Kampanye, Politisi Peru Ini Minta Bantuan Netizen

Tak Sengaja Berikan Kunci Mobil Saat Kampanye, Politisi Peru Ini Minta Bantuan Netizen

Internasional
Berkunjung ke Gereja di Yerusalem, Presiden Perancis Berteriak ke Keamanan Israel

Berkunjung ke Gereja di Yerusalem, Presiden Perancis Berteriak ke Keamanan Israel

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] Kesaksian Pengantin Pesanan China | Gadis di Gresik Tulis Surat ke PM Australia

[POPULER INTERNASIONAL] Kesaksian Pengantin Pesanan China | Gadis di Gresik Tulis Surat ke PM Australia

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X