Kompas.com - 06/07/2013, 01:29 WIB
EditorPalupi Annisa Auliani
BAGHDAD, KOMPAS.com — Serangan-serangan bom menewaskan delapan orang di alun-alun kota di Irak, Jumat (5/7/2013). Demikian kata sejumlah pejabat. Serangkaian ledakan di beragam tempat juga menjatuhkan korban jiwa maupun terluka. Selama tiga bulan terakhir, sebanyak 2.500 orang tewas akibat serangkaian ledakan serupa.

Dalam serangan mematikan, tujuh orang tewas ketika seorang penyerang yang mengenakan seragam militer, dengan bom bunuh diri, meledakkan mobil yang ditumpanginya menjelang shalat Jumat. Serangan terjadi di Samarra, sebuah kota berpenduduk mayoritas Sunni di sebelah utara Baghdad, di dekat alun-alun Al-Haq, yang selama berbulan-bulan menjadi titik pusat protes anti-pemerintah.

Menurut polisi dan petugas medis, serangan bom mobil bunuh diri di dekat Masjid Al-Razzaq itu juga melukai sembilan orang yang lain. Polisi mengatakan, pelaku bom bunuh diri ini mengenakan seragam tentara angkatan darat Irak.

Di Kut, kota berpenduduk Syiah di sebelah selatan Baghdad, sebuah bom meledak di alun-alun Al-Amil sekitar pukul 10.00 waktu setempat, atau sekitar pukul 14.00 WIB. Satu orang tewas dalam ledakan ini dan 17 orang cedera.

Sementara itu, dua militan juga tewas di kota wilayah utara, Hawijah. Mereka tewas ketika bom yang mereka pasang tiba-tiba meledak, mengutip pernyataan pejabat setempat.

Serangan-serangan itu merupakan gelombang teranyar pengeboman dan serangan bunuh diri di tengah krisis politik antara Perdana Menteri Nuri al-Maliki dan mitra-mitra pemerintahnya yang diikuti pawai protes selama beberapa pekan yang menuntut pengunduran diri Nuri.

2.500 tewas dalam 3 bulan

Kekerasan di Irak meningkat sejak awal tahun ini. Menurut laporan PBB, lebih dari 2.500 orang tewas sepanjang April hingga Juni 2013, jumlah tertinggi sejak 2008. Sebelumnya, 271 orang tewas sepanjang Maret 2013 dan 220 orang tewas sepanjang Februari 2013, seperti dikutip AFP dari sumber keamanan dan medis setempat.

Irak dilanda kemelut politik dan kekerasan yang menewaskan ribuan orang sejak pasukan AS menarik pasukannya dari negara itu pada 18 Desember 2011. Sesudah penarikan tersebut, tanggung jawab keamanan dikembalikan pada pasukan Irak.

Selain bermasalah dengan Kurdi, Pemerintah Irak juga berselisih dengan kelompok Sunni.      Perdana Menteri Irak Nuri al-Maliki yang adalah penganut Syiah sejak Desember 2011 mengupayakan penangkapan Wakil Presiden Tareq al-Hashemi atas tuduhan terorisme dan berusaha memecat Deputi Perdana Menteri Saleh al-Mutlak. Keduanya adalah pemimpin Sunni.

Pejabat-pejabat Irak mengeluarkan surat perintah penangkapan bagi Wakil Presiden Tareq al-Hashemi pada 19 Desember 2011 setelah mereka memperoleh pengakuan yang mengaitkannya dengan kegiatan teroris. Puluhan pengawal Hashemi ditangkap dalam beberapa pekan setelah pengumuman itu, tetapi tidak jelas berapa orang yang kini ditahan.

Hashemi, yang membantah tuduhan tersebut, bersembunyi di wilayah otonomi Kurdi di Irak utara. Para pemimpin Kurdi pun menolak menyerahkannya ke Baghdad. Pemerintah Kurdi bahkan mengizinkan Hashemi melakukan lawatan regional ke Qatar, Arab Saudi, dan Turki.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Sumber AFP/ANTARA
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.