Salin Artikel

Tak Semua Senang dengan Pertemuan Donald Trump dan Kim Jong Un

Sejumlah analis menilai jabat tangan, penandatanganan kesepakatan, hingga saling bertukar pujian menjadi tanda Presiden Trump melegitimasi kekuasaan Kim Jong Un.

Para analis ini mempertanyakan sikap Trump yang memperlakukan Kim sebagai rekan setara padahal pemimpin Korut itu berpotensi memicu perang nuklir hanya beberapa bulan sebelum KTT di Singapura itu.

"Penyelenggaraan KTT ini, mulai dari jabat tangan, pengaturan bendera, hingga pengaturan posisi duduk, biasa dilakukan dalam pertemuan dua negara berdaulat yang memiliki hubungan diplomatik normal," kata pengamat masalah keamanan, Ankit Panda.

"Efek legitimasi terhadap rezim Korea Utara tak terbantahkan," tambah Panda.

Sementara pakar masalah pengendalian senjata Jeffrey Lewis menilai publikasi pertemuan kedua pemimpin ini terlalu berlebihan.

"Saya sedikit terganggu dengan peliputan yang terlalu antusias terhadap apa yang tak lebih dari sebuah episode reality show televisi," kata Lewis.

Hanya beberapa bulan lalu, Trump dan Kim saling bertukar hinaan. Kata-kata "pikun" atau "manusia roket" hingga membanggakan senjata nuklir masing-masing menghiasi berbagai pemberitaan dunia.

Namun, saat berada di sebuah hotel mewah di Singapura, keduanya tampil bak kawan lama yang amat akrab.

Trump dan Kim juga sempat berjalan-jalan di sekitar hotel, bahkan Trump memperlihatkan mobil dinasnya "The Beast" kepada pemimpin Korea Utara itu.

Tak hanya itu, Trump juga menghujani Kim Jong Un, yang usianya jauh lebih muda, dengan berbagai pujian.

"Saya menyimpulkan, dia (Kim) adalah orang yang sangat berbakat. Saya juga mengetahui, dia amat mencintai negaranya," ujar Trump.

Tak berhenti di situ, pujian Trump berlanjut dengan menyebut Kim Jong Un sebagai sosok dengan "kepribadian hebat" dan "amat cerdas".

Kondisi ini amat kontras saat Trump menghadiri KTT G7 di Kanada, sehari sebelum pertemuan di Singapura digelar.

Di Kanada, Trump seolah terisolasi dari para pemimpin dunia lainnya terkait kebijakan dagang AS dengan para sekutu tradisionalnya.

Di tengah sejumlah sinisme itu, para pendukung pertemuan Kim dan Trump bersikukuh peristiwa bersejarah itu memiliki aspek positif.

Dengan menerima Kim Jong Un di panggung dunia semacam itu jauh lebih baik ketimbang terus membiarkan dia menjadi ancaman terselubung bagi komunitas internasional.

Sejumlah pengamat menilai, meski kesepakatan yang dicapai tak terlalu kuat tetapi masih lebih baik ketimbang kedua pemimpin itu saling bertukar caci maki.

"Kita mulai memikirkan Korea Utara dan Kim Jong Un sebagai 'kesempatan' dan bukan ancaman. Perubahan ini sudah merupakan transformasibersejarah," kata John Delury, guru besar di Universitas Yonsei, Seoul.

"Apa yang terjadi saat ini adalah mendorong Kim Jong Un siap keluar menghadapi dunia untuk berdialog dan menciptakan perdamaian," kata Delury lagi.

https://internasional.kompas.com/read/2018/06/12/19293411/tak-semua-senang-dengan-pertemuan-donald-trump-dan-kim-jong-un

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.