Filipina Klaim 2.200 Warganya di Kuwait Bersedia Pulang - Kompas.com

Filipina Klaim 2.200 Warganya di Kuwait Bersedia Pulang

Kompas.com - 13/02/2018, 21:48 WIB
Tenaga kerja Filipina yang dipulangkan dari Kuwait mengikuti dialog dengan Departemen Tenaga Kerja setibanya di bandara internasional Ninoy Aquino di Manila.Reuters via Arab News Tenaga kerja Filipina yang dipulangkan dari Kuwait mengikuti dialog dengan Departemen Tenaga Kerja setibanya di bandara internasional Ninoy Aquino di Manila.

MANILA, KOMPAS.com - Pemerintah Filipina menyampaikan, ada lebih dari 2.000 warga negaranya yang kini berada di Kuwait menyatakan ingin kembali. Pemerintah juga telah menjalankan program untuk memulangkan mereka ke tanah air.

Juru bicara kepresidenan Filipina Harry Roque mengatakan, rombongan pertama warga Filipina yang bekerja di luar negeri telah kembali tiba di Manila, pada Senin (12/2/2018).

"Mereka yang sudah kembali adalah yang telah mendapat amnesti setelah melewati izin tinggal maupun yang melarikan diri dari majikan mereka," kata Roque, dikutip dari Arab News.

Baca juga: Duterte Ancam Larang Wanita Filipina Bekerja ke Kuwait

Presiden Rodrigo Duterte telah memerintahkan kepada Philippine Airlines dan Cebu Pacific untuk menyediakan penerbangan bagi warga Filipina yang ingin meninggalkan Kuwait.

Menteri Tenaga Kerja Filipina Silvestre Bello III mengatakan, sekitar 2.200 warga Filipina di Filipina mengaku siap menerima tawaran pemerintah untuk kembali dari Kuwait karena laporan pelecehan.

"Kami telah menerima informasi pada Jumat (9/2/2018) sudah ada lebih dari 2.200 warga Filipina yang ingin kembali pulang," kata Bello kepada Reuters.

Setelah para pekerja kembali, Bello mengatakan, pemerintah akan membantu mereka mencari pekerjaan.

Pemerintah siap membantu para pekerja yang dipulangkan dengan bantuan sebesar 5.000 peso (sekitar Rp 1,3 juta) ditambah 20.000 peso (Rp 5,2 juta) untuk bantuan mata pencaharian.

"Kami memiliki program untuk mereka dan akan memberi mereka penghidupan," katanya kepada saluran berita ANC.

"Selain itu kami sekarang sedang dalam proses mencari pasar alternatif untuk para tenaga kerja kami,bisa ke China atau bahkan Rusia," tambah Bello.

Baca juga: Jika Saya Tak Bersikap Bak Diktator, Filipina Tak Akan Maju

Pemerintah Filipina telah menangguhkan pengiriman tenaga kerja menuju Kuwait sejak bulan Januari lalu setelah adanya laporan tentang penyiksaan oleh majikan yang mendorong pekerja melakukan bunuh diri.

Duterte mengatakan, penangguhan pengiriman tenaga kerja Filipina ke Kuwait akan tetap berlaku hingga batas waktu yang tak ditentukan.


Komentar

Close Ads X