Kedubes Korea Utara di Jerman Diduga Pasok Teknologi Nuklir - Kompas.com

Kedubes Korea Utara di Jerman Diduga Pasok Teknologi Nuklir

Kompas.com - 04/02/2018, 17:02 WIB
Warga melihat laporan berita menunjukkan peluncuran rudal balistik jarak-menengah Hwasong-12 melalui layar elektronik di stasiun Pyongyang, Korea Utara, dalam foto yang diambil Kyodo, Rabu (30/8/2017).ANTARA FOTO/KYODO/via REUTERS Warga melihat laporan berita menunjukkan peluncuran rudal balistik jarak-menengah Hwasong-12 melalui layar elektronik di stasiun Pyongyang, Korea Utara, dalam foto yang diambil Kyodo, Rabu (30/8/2017).


BERLIN, KOMPAS.com — Badan intelijen Jerman (BfV) mengungkapkan, Korea Utara telah memperoleh peralatan dan teknologi untuk program nuklir dan senjata melalui kedutaan besarnya di Berlin.

Kepala BfV Hans-Georg Maassen mengatakan, agen menemukan banyak kegiatan pengadaan telah dilakukan dari kedutaan tersebut.

"Dari sudut pandang kami, pengadaan tersebut untuk program rudal tetapi juga sebagian untuk program nuklir," katanya, seperti dilansir dari AFP, Minggu (4/2/2018).

Meskipun sifat sebenarnya dari teknologi belum dapat diketahui spesifikasinya, dia mengatakan,  kemungkinan senjata tersebut dimaksudkan untuk penggunaan sipil dan militer.

Baca juga : PBB: Korea Utara Kirim Senjata ke Suriah dan Myanmar

BfV memperoleh petunjuk tentang pengadaan teknologi tersebut pada 2016 dan 2017.

Sebelumnya, pada 2014, seorang diplomat Korea Utara berusaha mendapatkan peralatan yang digunakan dalam pengembangan senjata kimia.

Tuduhan Jerman tersebut muncul setelah publikasi laporan PBB yang menyatakan Korea Utara melanggar sanksi dengan mengekspor batu bara, besi, baja, dan komoditas terlarang lainnya  sehingga menghasilkan pendapatan hampir 200 juta dollar AS pada tahun lalu.

Sebuah panel PBB juga menemukan bukti adanya kerja sama militer oleh Korea Utara untuk mengembangkan program senjata kimia Suriah dan memberikan rudal balistik kepada Myanmar.

Baca juga: Ketika Bendera Korea Utara Berkibar di Pyeongchang, Korea Selatan

"Korea Utara masih terus melakukan ekspor untuk hampir seluruh komoditas yang dilarang oleh resolusi dan memperoleh pendapatan hampir 200 juta dollar AS antara Januari hingga September 2017," tulis laporan PBB.

Ditambahkan laporan tersebut, pengiriman batu bara dan barang tambang lainnya ke China, Malaysia, Korea Selatan, Rusia, hingga Vietnam menggunakan jalur laut dan dengan kombinasi teknik penghindaran, rute ganda, maupun taktik tipu daya.

 


EditorVeronika Yasinta
SumberAFP
Komentar

Close Ads X