Kompas.com - 03/02/2018, 18:25 WIB
|
EditorAgni Vidya Perdana

NEW YORK, KOMPAS.com - Korea Utara dituduh telah menjual senjata kepada pemerintah Suriah dan Myanmar, serta melakukan ekspor batubara, besi, dan baja.

Menurut laporan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang dirilis pada Jumat (2/2/2018), Pyongyang disebut telah membantu pemerintahan Presiden Bashar Al-Assad dalam mengembangkan program senjata nuklir dan mengirimkan rudal balistik untuk tentara Myanmar.

Korea Utara juga dituduh masih terus melakukan ekspor untuk barang-barang tambang yang termasuk dalam sanksi Dewan Keamanan PBB.

Baca juga: Langgar Sanksi, Korea Utara Disebut Masih Lakukan Ekspor Batu Bara

"Korea Utara masih terus melakukan ekspor untuk hampir seluruh komoditas yang dilarang oleh resolusi dan memperoleh pendapatan hampir 200 juta dolar AS (sekitar Rp 2,68 triliun) antara Januari hingga September 2017," tulis laporan PBB, dikutip AFP.

Ditambahkan laporan tersebut, pengiriman batubara dan barang tambang lainnya ke China, Malaysia, Korea Selatan, Rusia hingga Vietnam menggunakan jalur laut dan dengan kombinasi teknik penghindaran, rute ganda, maupun taktik tipu daya.

Tahun lalu, Dewan Keamanan PBB telah memberlakukan serangkaian resolusi yang ditujukan untuk membatasi ekspor dan mengurangi pendapatan Korea Utara yang akan digunakan untuk program persenjataan nuklir mereka.

Namun, menurut laporan tersebut dan juga panel ahli PBB, sebanyak tujuh kapal dicegah memasuki pelabuhan internasional di seluruh dunia karena telah melanggar sanksi PBB dengan melakukan transfer batubara dan minyak bumi dengan Korea Utara.

"Korea Utara telah memandang rendah resolusi dengan memanfaatkan rantai pasokan minyak global, melibatkan warga negara asing, perusahaan lepas pantai dan sistem perbankan internasional," kata panel ahli PBB.

Baca juga: CIA Khawatir Korut Tak Lama Lagi Kirim Misil Nuklir ke AS

Penyelidikan yang dilakukan juga telah mengungkap bukti substansial terkait kerja sama militer Pyongyang dengan Damaskus.

Setidaknya ada tiga kali kunjungan teknisi Korea Utara ke Suriah pada 2016, sesuatu yang lansung dibantah pemerintahan negara yang bersangkutan. Suriah mengatakan ahli yang diundang ke negaranya hanya yang terlibat di bidang olahraga.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.