70 Tahun "Sejarah Panas" AS-Korut, dan Kini Berlanjut... - Kompas.com

70 Tahun "Sejarah Panas" AS-Korut, dan Kini Berlanjut...

Glori K. Wadrianto
Kompas.com - 04/09/2017, 09:45 WIB
Tentara Korea Utara memberikan penghormatan kepada patung pendiri negara itu, Kim Il Sung, di Pyongyang, ibu kota negara itu.KYODO/REUTERS Tentara Korea Utara memberikan penghormatan kepada patung pendiri negara itu, Kim Il Sung, di Pyongyang, ibu kota negara itu.

WASHINGTON, KOMPAS.com - Sejak berakhirnya Perang Korea, hubungan Amerika Serikat dan Korea Utara kerap diwarnai ketegangan yang tinggi.

Ketegangan-ketegangan tersebut, terjadi secara periodik, namun biasanya dalam waktu yang singkat.

Berikut ini adalah catatan dalam sejarah "hubungan panas" antara AS dan Korut

Baca juga: 10 Fakta tentang Kim Jong Un yang Mungkin Belum Anda Tahu

Terbelahnya Semenanjung Korea

Pada tahun 1945, pendudukan Jepang di Korea berakhir setelah kekalahan Negeri Matahari Terbit di Perang Dunia II.

Korea pun ikut terbagi  di antara rezim Kim Il-Sung yang didukung Soviet di Utara, dan wilayah Selatan yang dilindungi AS.

Pada bulan Juni 1950 Korut -yang kemudian dibantu oleh China, menyerang Korsel. Sebuah koalisi yang dipimpin AS mampu merebut kembali Seoul.

Pada bulan Juli 1953, tercapai sebuah gencatan senjata (bukan sebuah perjanjian damai penuh) ditandatangani kedua pihak. Washington pun memberlakukan sanksi terhadap Pyongyang.

Baca: Apa Reaksi PBB dan Rusia Soal Uji Coba Bom Hidrogen Korut?

Krisis kapal mata-mata Pueblo

Pada bulan Januari 1968, kapal perangan AS USS Pueblo, yang menjalankan tugas mata-mata ditangkap oleh Korut. Setelah sempat ditahan selama 11 bulan, sebanyak 83 awak kapalitu pun dilepas.

Menurut Pyongyang, kapal tersebut melanggar perairan teritorialnya, sebuah tuduhan yang disangkal AS.

Pada tahun 1969, Korut pun menembak jatuh sebuah pesawat pengintai AS.

Kontak

Pada bulan Juni 1994, Mantan Presiden AS Jimmy Carter melakukan kunjungan yang belum pernah terjadi sebelumnya ke Korut.

Pada bulan Oktober, tiga bulan setelah kematian Kim Il-Sung dan suksesi oleh anaknya Kim Jong-Il, Pyongyang dan Washington menandatangani sebuah kesepakatan bilateral.

Korut berkomitmen untuk membekukan dan membongkar program nuklir militernya dengan imbalan pembangunan reaktor sipil.

Pada tahun 1999, setahun setelah tes pertama rudal balistik jarak jauh, Kim Jong-Il mengumumkan sebuah moratorium uji coba rudal, dan Washington mulai mengurangi sanksi.

Oktober 2000, Menteri Luar Negeri AS Madeleine Albright bertemu dengan Kim Jong-Il di Pyongyang.

"Axis of Evil"

Pada bulan Januari 2002, Presiden AS George W. Bush melabeli Korea Utara, bersama dengan Iran dan Irak, sebagai bagian dari "poros kejahatan".

Pada bulan Oktober, Washington menuduh Pyongyang melakukan program pengayaan uranium rahasia yang melanggar kesepakatan nuklir tahun 1994.

Pada bulan Agustus 2004, Korut menyatakan, tidak mungkin untuk berpartisipasi dalam program nuklir baru dengan AS.

Korut pun mulai menyerang Bush dengan menyebutkan tirani yang lebih buruk daripada Hitler dan seorang politikus bodoh.

Pada tahun 2006, Pyongyang pun melakukan uji coba nuklir pertamanya.

Daftar hitam AS

Pada bulan Oktober 2008, AS menarik Korut dari daftar hitam negara-negara sponsor terorisme.

Hal itu dilakukan sebagai "imbalan" atas kontrol terhadap semua instalasi nuklir Pyongyang.

Pyongyang telah masuk dalam daftar hitam AS sejak tahun 1988 karena diduga terlibat dalam pengeboman sebuah pesawat Korsel pada tahun 1987 yang menewaskan 115 orang.

Tahanan AS

Pada bulan Januari 2016, mahasiswa AS Otto Warmbier ditangkap dan dijatuhi hukuman 15 tahun kerja paksa, karena mencuri poster propaganda di Pyongyang.

Baca: Presiden Korsel Tuding Korut di Balik Kematian Otto Warmbier

Dia meninggal dunia pada bulan Juni 2017, satu minggu setelah kembali ke AS dalam keadaan koma.

Banyak warga AS telah ditahan bertahun-tahun sebelum dipulangkan. Tiga warga AS kini masih ditahan di sana.

Sementara, AS pun mulai memberlakukan larangan perjalanan bagi warganya ke negeri itu, sejak akhir pekan lalu.

Baca: Jumat Ini, Travel Ban Warga AS ke Korut Mulai Berlaku

Trump vs Kim Jong Un

Pada 2 Januari 2017, Presiden terpilih AS Donald Trump mengatakan Korut tidak akan pernah diizinkan untuk mengembangkan senjata nuklir yang mampu mencapai wilayah AS.

Pada bulan Juli, Korut melakukan dua uji coba rudal balistik antarbenua. Kim Jong Un lalu menyatakan, "seluruh wilayah AS sekarang berada dalam jangkauan ICBM Korut."

ICBM adalah Intercontinental Ballistic Missile (Peluru Kendali Balistik Antarbenua) adalah peluru kendali balistik yang mempunyai jangkauan yang sangat jauh, 5.000-12.000 kilometer.

Peluru kendali balistik antar benua semacam ini dirancang untuk dapat membawa senjata nuklir.

Baca: Rudal Balistik Antar-Benua Korut Bisa Jangkau Seluruh Daratan AS

Pada 8 Agustus, Trump mengancam akan memerangi Korut dengan "api dan kemarahan" yang belum pernah terjadi sebelumnya, jika Pyongyang terus mengancam AS.

Pyongyang membalasnya dengan mengeluarkan ancaman untuk melepaskan empat rudal ke wilayah perairan di dekat Guam, di mana pangkalan militer AS berada.

Pada tanggal 29 Agustus, Pyongyang mengirim sebuah rudal balistik ke Jepang.

Presiden Trump pun berang, dan memastikan bahwa langkah diplomasi bukan lagi menjadi pilihan untuk menyelesaikan sengketa kedua negara.

Terbaru, pada 3 September kemarin, Korut melakukan uji coba nuklir keenam, dan mengumumkan keberhasilan uji coba bom hidrogen yang dapat dipasang di hulu ledak rudal.

Baca: Korut Umumkan Kesuksesan Uji Coba Bom Hidrogen Berdaya 100 Kiloton

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisGlori K. Wadrianto
EditorGlori K. Wadrianto
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM