Remaja 17 Tahun Ditembak Terkait Narkoba, Picu Protes terhadap Duterte - Kompas.com

Remaja 17 Tahun Ditembak Terkait Narkoba, Picu Protes terhadap Duterte

Kompas.com - 27/08/2017, 15:26 WIB
Warga melepas jenazah Kian di ibukota Manila. GETTY IMAGES VIA BBC INDONESIA Warga melepas jenazah Kian di ibukota Manila.

MANILA, KOMPAS.com - Ratusan orang berduka dalam pemakaman Kian Delos Santos, seorang remaja yang meninggal dalam kebijakan anti narkoba Presiden Rodrigo Duterte yang telah menewaskan ribuan orang di Filipina.

Kian Delos Santos ditembak mati polisi, karena dituduh terlibat dalam perdagangan narkoba dan menolak untuk ditahan.

Namun cuplikan rekaman menunjukkan remaja berusia 17 tahun ini diseret oleh petugas yang tidak menggunakan seragam.

Dalam rekaman itu pula terlihat remaja itu berlutut, tertunduk, dan lalu tewas.

Ratusan orang hadir dalam pemakaman remaja itu di Ibu Kota Manila. Sejumlah orang datang membawa poster, mendesak agar kebijakan yang menggunakan kekerasan itu segera diakhiri.

Dorongan atas desakan ini juga datang dari sejumlah kalangan yang lelah dengan kejahatan yang terkait narkoba di Filipina.

Biarawati, pendeta, dan ratusan anak berteriak "keadilan untuk Kian, keadilan untuk semua".

Mereka menggelar aksi sambil berjalan kaki mengiringi rombongan jenazah dari sebuah gereja ke pemakaman di mana remaja ini dikuburkan.

Ayah korban, Saldy, menyatakan kepada orang yang hadir dalam pemakaman, anaknya tidak bersalah. Dia lantas melampiaskan kemarahannya kepada polisi.

"Apakah mereka tidak memiliki hati?" kata dia, suaranya bergetar karena emosi.

"Saya tidak yakin mereka memilikinya. Ada banyak gereja, mereka harusnya pergi ke sana."

Pastor Robert Reyes, menjadi salah satu dari sejumlah pastor Katolik yang hadir dalam misa, Sabtu (26/8/2017). 

"Kian merupakan nama dan wajah kebenaran," kata dia seperti dikutip oleh kantor berita AFP.

"Kita tidak mengizinkan kebenaran ikut mati dengan pembunuhan Kian".

Orangtua remaja ini dan kuasa hukumnya menggugat tiga aparat polisi atas pembunuhan itu pada Jumat (25/8/2017).

Kelompok HAM menuduh polisi Filipina merencanakan pembunuhan di luar pengadilan dan dalam sejumlah kasus memberikan keuntungan bagi mereka.

Polisi telah memastikan, tersangka dibuniuh ketika mereka melawan polisi dengan senjata. Klaim ini sejak lama telah diperdebatkan.

Baca: Terkait Kasus Narkoba, Polisi Duterte Bunuh 21 Orang dalam Satu Malam

Duterte menangguhkan kampanye pada bulan Januari yang menjanjikan untuk "membersihkan" polisi, dan mengatur ulang unit anti-narkoba. Kampanye dilanjutkan pada bulan Maret.

EditorGlori K. Wadrianto
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM