AS Larang Peralatan Elektronik dalam Penerbangan dari Timur Tengah - Kompas.com

AS Larang Peralatan Elektronik dalam Penerbangan dari Timur Tengah

Kompas.com - 21/03/2017, 07:58 WIB
Saul Loeb/AFP Seorang petugas Badan Keamanan Transportasi (TSA) memeriksa identitas penumpang di boarding pass di bandara nasional Ronald Reagan, Arlington, Virginia.

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Pemerintah AS bersiap untuk melarang berbagai peralatan elektronik seperti laptop atau kamera yang dibawa penumpang penerbangan asal negara-negara Timur Tengah.

Sebuah kicauan dari maskapai Saudi Airlines dan Royal Jordanian Airlines memberitahukan kepada para pelanggan terkait larangan terhadap peralatan elektronik ke kabin penumpang selain telepon genggam.

Manajemen Royal Jordanian mengatakan peralatan elektronik seperti laptop, tablet, kamera, pemutar DVD, dan perangkat permainan harus menjalani pemeriksaan di bawah aturan pemerintah AS mulai 21 Maret mendatang.

Hanya telepon genggam dan peralatan medis yang diperlukan dalam penerbangan dikecualikan dari pemeriksaan ketat itu.

Namun, Royal Jordanian kemudian menghapus kicauannya karena sudah merilis informasi itu secara prematur.

Sementara itu CNN yang mengutip seorang pejabat pemerintah AS mengabarkan, larangan terhadap berbagai peralatan elektronik itu diduga kuat terkait ancaman dari Al Qaeda Semenanjung Arabia (AQAP).

"Kami tak berkomentar soal langkah pengamanan ini, tetapi kami akan memberi kabar terbaru di saat yang tepat," demikian pernyataan Departemen Keamanan Dalam Negeri AS.

Menurut harian Financial Times yang juga mengutip pejabat pemerintah AS, aturan baru ini akan meliputi delapan negara Timur Tengah termasuk Mesir, Jordania, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.

Sedangkan harian The Guardian mengabarkan, yang menerima surat elektronik dari Badan Keselamatan Transportasi AS, aturan ini akan berdampak kepada 13 negara.

Keputusan ini merupakan langkah terbaru Presiden Donald Trump untuk memperketat pengamanan di perbatasan AS setelah upaya untuk mencegah warga negara-negara Muslim masuk ke AS dua kali digagalkan pengadilan.

EditorErvan Hardoko
SumberAFP
Komentar