Poklong Anading: Menemukan Seni dalam "Kekacauan" Manila - Kompas.com

Poklong Anading: Menemukan Seni dalam "Kekacauan" Manila

Karim Raslan
Kompas.com - 18/02/2017, 20:31 WIB
KARIM RASLAN Cubao X adalah ruas jalan populer yang penuh dengan kafe, bar, serta toko seni dan musik di dekat kediaman Poklong Anading.

Poklong Anading adalah seorang seniman Filipina berusia 41 tahun dengan rambutnya yang lebat bergelombang dan sikapnya yang amat pemalu.

Ia tinggal di sebuah komplek bersama sejumlah artis dan desainer lainnya di pemukiman Cubao – sekitar 10 km dari kawasan gedung-gedung pencakar langit, Makati dan Bonifacio Global City.

Di bawah studionya yang rapi dan bergaya zen terdapat bengkel dan workshop mirip gambaran Dickens.

Semuanya terlihat kacau: orang berlalu lalang, papan, besi batangan dan kaleng cat yang berserakan, serta tampak tong-tong besar berisi resin.

Para pengrajin membuat, memoles, dan kemudian menyimpan karya seni ukiran, dan instalasi di saat malam tiba.

Pernah muncul dalam buku "No Chaos, No Party: 28 Artists in Metro Manila" (disusun oleh Valeria Cavestany dan disunting oleh Eva McGovern-Basa), dan turut berpartisipasi dalam Pameran Seni Filipina 2017 yang tengah berlangsung, Poklong dikenal sebagai salah satu artis kontemporer berbakat yang luar biasa di Filipina.

Menempuh studi di Universitas Filipina di bawah bimbingan Roberto Chabet (seorang seniman konseptual dan administrator seni), Poklong adalah salah satu murid sang maestro yang paling menonjol.

Walaupun demikian, tak seperti umumnya seniman Filipina yang dipengaruhi oleh gaya Kastilian/Katolik yang mengakar (bayangkan sebuah ukiran gading dan ikonografi Kristen) dipadu dengan tradisi mural Meksiko yang populis dan seringkali anti-klerikal dari era 1920 (seperti karya-karya Diego Rivera dan Frida Kahlo), Poklong tetap fokus pada aliran yang hampir sama dengan yang dianut seniman konseptual Jerman, Joseph Beuys dan sekolah Arte Povera Italia.

Bagaimanapun, Poklong adalah seniman yang amat Filipina. Lingkungannya telah membentuk karya-karya seninya, dan Manila telah memberinya pengaruh yang kuat.

Meski dia harus berjuang menghadapi banjir, topan, dan gempa bumi – termasuk serentetan pembunuhan di luar pengadilan yang saat ini terjadi – dia tetap terpesona dengan segala energi dan kegembiraan yang dimiliki kota Manila.

Memang, dalam beberapa tahun terakhir, dengan angka pertumbuhan PDB yang memecahkan rekor dan kembalinya para ekspatriat Filipina dari berbagai wilayah di dunia, pertumbuhan Manila meningkat tajam – hingga mampu merebut kembali posisinya sebagai salah satu kota yang berpikiran terbuka, kreatif, dan dinamis di Asia.

Namun, meskipun memiliki gemerlap kosmopolitan – mal dan kasino yang baru dibuka – kota ini berevolusi sangat fantastis dan mengejutkan (tak seperti karya Italo Calvino "Invisible Cities"): dua puluh satu juta orang berhimpit-himpitan di daratan sempit antara Manila Bay di sebelah barat dan Danau Laguna di sebelah timur.

"Semula saya mengira karya saya dapat berasal dari mana saja, tetapi saat ini ketika saya bertambah tua, saya sadar bahwa karya-karya ini merespon dengan cara yang sangat reflektif terhadap kota."

"Manila tak menjadi lebih baik. Ia terus-menerus meluas dan lalu lintas menjadi lebih buruk. Udaranya kotor. Polusi seperti memenuhi raga saya! Saya sadar saya ingin pergi saja, tapi di lain pihak, kota ini juga menguatkan saya."

Poklong sangat terpesona dengan ruang dan segala sesuatu yang disisakan manusia.
Ia seolah terserap oleh sisa-sisa kehidupan sehari-hari, seperti limbah dan sampah: "Saya menjadi sedikit terobsesi oleh sistem limbah, bagaimana mereka berproses dan lalu terpisah menjadi limbah padat dan cair."

Ia memandang rongsokan, sampah, dan limbah yang entah bagaimana menjadi lebih penting dan bermakna dari pada produk-produk Abad 21: bangunan, papan-papan reklame, jalan raya, dan tol.

Dengan kata lain, dia mengamati, menilai, dan melahirkan inspirasi dari apapun yang "dibuang" orang– baik secara harfiah dan kiasan.

Sebagai contoh, di sebuah sudut komplek Cubao yang tenang, Poklong sedang menyiapkan sesuatu yang tampak seperti laboratorium (walaupun ia menyebutnya sebagai “arsip”): sebuah tempat untuk mengumpulkan, dan membersihkan “trapos,” sebuah kain lap pembersih yang tidak bernilai dan dapat ditemukan dimana mana di dalam kota.

Seperti yang terjadi, kata “trapos” memiliki makna ganda, “kain” dalam bahasa Spanyol dan “politisi tradisional” dalam bahasa Tagalog.

Namun, bagi Poklong, “trapos” sangat penting dan dia memperlakukannya dengan penuh hormat, dia menggarisbawahi pentingnya sesuatu yang kita sia-siakan dan hancurkan.
Relevansinya pun meluas melampaui pemahaman orang-orang pada umumnya sebagaimana Poklong menjelaskannya secara misterius, “Waktu ketika saya memulai untuk membersihkan adalah waktu ketika pemerintah kita juga mulai untuk ‘membersihkan’.”

“Saya bukanlah seniman yang berada di atas. Saya berada di tengah. Air dan cahaya adalah yang utama. Apa yang diproduksi gambar-gambar ini adalah cahaya.”

Narasi personal Poklong sendiri sulit dan tidak menentu sebagaimana kisah kehidupan kelas pekerja Filipina yang harus berjuang demi memperoleh makna hidup dan kemerdekaan, seperti yang diakuinya sendiri:

"Ibu saya kerja di luar negeri. Saya hanya melihatnya setiap dua atau tiga tahun sekali. Saya tumbuh bersama nenek sejak berumur dua tahun. Ayah saya tidak benar-benar hadir. Tapi kemudian nenek saya mengalami stroke dan kami dirawat oleh bibi saya. Saya kemudian lebih banyak menghabiskan waktu dengan nenek, menjaganya seperti seorang pengasuh karena bibi saya bekerja."

“Karena masa kecil saya, saya selalu bekerja paruh waktu, mencari uang dari produksi film dan TV untuk bertahan hidup. Ini semua tentang bagaimana hidup mandiri dan tidak didikte oleh apapun.”

Di sebuah kota di mana tragedi dan drama begitu tipis jaraknya, Poklong mampu menciptakan karya seni dalam bentuk esai yang indah tentang kehilangan, pengabaian, dan identitas.

Dengan membenamkan diri dalam kekacauan yang dinamakan Manila, Poklong meraih sebuah keajaiban kecil: mengubah rongsokan dan sampah menjadi puisi dan karya seni.

EditorTri Wahono
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM