Sabtu, 25 Februari 2017

Internasional

Misteri Siti Aisyah dan Pembunuhan Kim Jong Nam...

Jumat, 17 Februari 2017 | 22:46 WIB
The Telegraph Perempuan pemegang paspor Indonesia, yang tersangkut kasus pembunuhan Kim Jong Nam, saudara tiri pemimpin Korut Kim Jong Un, itu bernama Siti Aishah.

KOMPAS.com — Keluarga dan bekas tetangga Siti Aisyah—sebelumnya ditulis Siti Aishah—mengaku kaget mendengar wanita itu terlibat dalam pembunuhan misterius di bandara Malaysia.

Perempuan 25 tahun itu adalah satu dari tiga orang yang ditahan oleh polisi Malaysia dalam penyidikan kasus pembunuhan Kim Jong Nam, saudara tiri pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.

Kim Jong Nam meninggal di Bandara Kuala Lumpur, Malaysia, awal minggu ini.

Berdasarkan rekaman kamera CCTV terlihat, Jong Nam sebelumnya dicegat dua perempuan.

Berbagai media lalu berspekulasi, Jong Nam dibunuh atas perintah Jong Un karena sering melontarkan kritik kepada rezim Korut.

Keterlibatan perempuan Indonesia asal Serang, Siti Aisyah, pun masih menjadi teka-teki.

Baca: KBRI Kuala Lumpur Belum Dapat Akses Temui Siti Aisyah

Dia ditangkap berdasarkan hasil rekaman kamera CCTV di sekitar Bandara Kuala Lumpur dan petunjuk kekasihnya, seorang warga Malaysia yang lebih dulu ditangkap polisi.

Menurut pemberitaan media lokal, Siti Aisyah pernah tinggal di sebuah gang di Jalan Angke Indah, Kelurahan Angke, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat.

Mantan ayah mertuanya, Tjia Liang Kiong, yang tinggal di dekatnya mengaku terakhir melihat Aisyah pada akhir Januari lalu.

Dia menggambarkan perempuan itu sebagai orang yang sangat baik, sopan, dan hormat.

"Saya kaget mendengar bahwa dia ditangkap karena membunuh seseorang," kata Kiong.

"Saya tidak percaya dia bisa melakukan kejahatan itu, atau seperti yang dikatakan media, menjadi agen intelijen," tambah dia.

Beberapa koran di Korea Selatan, mengutip sumber-sumber tak dikenal, memberitakan bahwa ada dua perempuan yang ditangkap di Malaysia, dan diyakini sebagai agen Korea Utara.

Keduanya membunuh Kim Jong Nam dengan cara meracunnya.

Baca: Wanita Mata-mata Korut, dari Gadis Erotis hingga Nenek-nenek ...

"Bagaimana saya bisa percaya," kata Aminah, seorang ibu rumah tangga mantan tetangga Siti Aisyah di Tambora.

"Dia sangat baik dengan semua orang di sini. Bagaimana dia bisa membunuh orang besar? Tidak mungkin, tidak mungkin," tutur Aminah lagi.

Ibu Aisyah, Benah, mengatakan kepada koresponden kantor berita AP lewat telepon, keluarga mereka berasal dari latar belakang miskin di desa.

"Sejak kami mendengar berita dari televisi, saya tidak bisa tidur dan makan. Sama seperti ayahnya, dia hanya berdoa dan membaca Al Quran. Dia malah tidak mau berbicara," kata Benah.

"Sebagai orang kecil, kami hanya bisa berdoa," sambung dia.

Aisyah, menurut ayah mertuanya, pindah ke Malaysia dengan suaminya tahun 2011 untuk mencari kehidupan yang lebih baik.

Keputusan itu diambil setelah bisnis toko garmen yang mereka jalankan gagal.

Pasangan itu meninggalkan anak mereka hampir dua tahun kepada orangtuanya, Tjia Liang Kiong dan istrinya, di Jakarta.

Setahun setelah meninggalkan Indonesia, Aisyah kembali ke Jakarta, dan mengatakan kepada ayah mertuanya bahwa dia ingin bercerai dari suaminya. Dia merasa pernikahan mereka tidak bahagia.

Namun, menurut sang suami, Aisyah mempunyai hubungan gelap dengan seorang pria Malaysia.

Akhirnya perceraian dilangsungkan pada tahun 2012. Aisyah mengaku akan tinggal bersama orangtuanya di Serang, Provinsi Banten, dan bekerja di sebuah toko sepatu.

Beberapa bulan kemudian, kata Tjia Liang Kiong, dia pindah ke Batam.

Ketika terakhir bertemu pada Januari lalu, Siti Aisyah mengunjungi anaknya di Jakarta.

Menurut Tjia Liang Kiong, dia kelihatan sangat kurus. Aisyah mengaku mengidap penyakit pernapasan.

Pihak imigrasi Indonesia menyatakan, Aisyah masuk ke Malaysia pada 2 Februari lalu dengan feri dari Batam.

Ketua RT di bekas tempat tinggalnya di Tambora, Rahmat Yusri, mengatakan, dia sulit percaya Siti Aisyah bisa melakukan pembunuhan.

"Saya sangat kaget waktu mendengar itu karena saya kenal dia dengan baik," kata Yusri.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : Glori K. Wadrianto
Sumber: Deutsche Welle,