Selasa, 28 Maret 2017

Internasional

Pengungsi Afrika Tengah Banjiri Negara-negara Tetangga

Senin, 17 Februari 2014 | 21:32 WIB
Juan Carlos Tomasi/MSF Anak-anak menjadi pengungsi di kota Bouca, Republik Afrika Tengah, akibat konflik bersenjata di wilayah itu.
BANGUI, KOMPAS.com - Konflik bersenjata di Republik Afrika Tengah (RAT) kini mulai dirasakan negara-negara tetangga RAT. Kini Kamerun, Chad, Kongo Brazzavile dan Republik Demokratik Kongo harus menampung antara 80.000-100.000 pengungsi RAT.

Di Kamerun, lebih dari 22.000 pengungsi telah menyeberangi perbatasan dalam beberapa pekan terakhir. Sekitar 9.000 pengungsi tiba dalam sepuluh hari pertama Februari. Mereka tiba dalam kondisi yang sangat menyedihkan setelah berjalan ratusan kilometer dan hanya mengonsumsi makanan seadanya.

Di sebelah selatan Chad, sekitar 35.000 pengungsi dengan mengendarai truk dan berjalan kaki tiba dalam beberapa pekan terakhir . Sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak, yang menempuh perjalanan lebih dari 200 kilometer untuk lolos dari peperangan.

“Pengungsi yang berkecukupan tiba dengan truk, mereka membawa barang sekadarnya, sementara yang lainnya berjalan kaki,” ujar Anthony Thouvenin, koordinator darurat MSF di perbatasan Chad-Republik Afrika Tengah. “Mereka tidak memiliki apa-apa. Ada sekitar 50 anak yang tiba sendirian.”

Di Chad MSF sudah menyediakan layanan medis di Bitoye, sebuah kota kecil yang terletak 10 kilometer dari perbatasan RAT. Namun, jika penyakit yang diderita para pengungsi sangat berat maka mereka dirujuk ke RS Baibokun, 25 kilometer dari Bitoye.
Ribuan pengungsi juga tiba di Zongo, Republik Demokratik Kongo. Sebagian besar pengungsi berasal  dari ibu kota RAT, Bangui yang dilanda kekerasan. Menurut catatan resmi, sebanyak 60.000 pengungsi RAT kini berada di RD Kongo, terutama di provinsi Equator dan Orientale yang terletak di perbatasan kedua negara.

Sebagian dari jumlah pengungsi itu hidup di empat kamp pengungsi, dan sebagian lainnya ditampung di rumah penduduk setempat.
 
Sementara itu di Kongo-Brazzavile diperkirakan 10.000-20.000 orang pengungsi Mereka tinggal bersama penduduk setempat atau bersembunyi di semak-semak. Tim dari Medecin Sans Frontieres (MSF) sedang mengkaji situasi di wilayah tersebut untuk menentukan respons darurat yang dibutuhkan.

 
Editor : Ervan Hardoko
Sumber: Médecins Sans Frontières,