Kompas.com - 01/05/2019, 18:14 WIB

CARACAS, KOMPAS.com - Tiga bulan pertikaian politik antara {residen Nicolas Maduro dan pemimpin oposisi Juan Guaido meningkat menjadi ketegangan di antara faksi militer pendukung.

Krisis baru itu terjadi setelah Guaido, yang sebelumnya mendeklarasikan diri sebagai presiden sementara Januari lalu, meminta militer untuk mendukungnya.

Dia mengunggah sebuah video do Twitter di mana dia berdiri di depan sekelompok pria berseragam militer di Pangkalan Udara La Carlota dekat Caracas.

Baca juga: Bantah Hendak Kabur dari Venezuela, Maduro Klaim Kalahkan Kudeta

Diwartakan Reuters via Newsweek Selasa (30/4/2019), pemerintahan Maduro kemudian menyatakan telah terjadi upaya kudeta dan berjanji bakal menghentikannya.

Mereka menerjunkan Garda Nasional Bolivarian, pasukan paramiliter Venezuela, untuk menghadapi loyalis Guaido dengan saksi mata menuturkan terjadi baku tembak.

Kemudian para pendukung sipil Guaido turun ke jalan dan menggelar demonstrasi dengan pasukan pemerintah berusaha membubarkan mereka menggunakan gas air mata.

Para pendemo yang memadati jalan di Caracas menyerang kendaraan lapis baja itu menggunakan kayu serta batu, membuat paramiliter Venezuela menabrak peserta unjuk rasa.

Menteri Pertahanan Vladimir Padrino dalam kicauan di Twitter menyatakan upaya kudeta itu mulai mengalami kekalahan dengan merinci korban dari pemerintah.

Di antaranya adalah Kolonel Garda Nasional Bolivarian Yerzon Jimenez Baez tertembak di bagian leher dan menuduh kelompok oposisi yang harus bertanggung jawab.

Konflik terbaru merupakan tantangan paling serius kepada Maduro yang menyalahkan Amerika Serikat (AS) atas krisis yang terjadi di negaranya.

Relasi dua negara di Benua Amerika itu memburuk sejak Presiden Donald Trump menjabat pada 2017 dan menerbitkan sejumlah sanksi ekonomi kepada Caracas.

Baca juga: Dukung Maduro, Suriah Tuding AS Merusak Stabilitas Venezuela

Para oposisi menyebut hiperinflasi yang berujung kepada kelangkaan makanan hingga obat-obatan merupakan dampak dari kebijakan yang dibuat oleh Maduro.

Sementara pendukung sang presiden berargumen berbagai produk yang seharusnya dialirkan ke Venezuela dihalangi AS yang ingin melenyapkan kekuatan sayap kiri di Amerika Latin.

Gedung Putih telah menyatakan bahwa segala opsi telah dipertimbangkan untuk menggulingkan Maduro dengan sejumlah pejabat seperti Penasihat Keamanan AS John Bolton memantau situasinya.

Sementara Presiden Rusia Vladimir Putin bertemu dengan tim Dewan Keamanan Nasional dengan Kedutaan Besar Rusia di Venezuela menyebut mereka tak akan campur tangan.

Sementara negara pro-Maduro seperti Bolivia, Kuba, Iran, maupun Turki melontarkan kecaman upaya kudeta yang mereka anggap didalangi oleh AS dan sekutunya.

Baca juga: Mobil Lapis Baja Pasukan Venezuela Tabrak Pendemo di Jalan

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Sumber Newsweek
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.