Kompas.com - 18/03/2019, 18:55 WIB

Dengan terpaksa, Mary setuju dan akhirnya kembali masuk ke istana. Ketika Edward VI mewarisi takhta di usia 9 tahun pada 1547, Mary harus menghadapi perbedaan di antara mereka terkait agama.

Ketegangan ini menghiasi masa pemerintahan singkat saudara tirinya tersebut hingga sang raja mangkat di usia 15 tahun pada Juli 1553.

Naik takhta

Dia menggulingkan pemerintahan ratu baru pengganti Edward, Lady Jane Gray, cucu dari adik perempuan Henry.

Lady Jane ditempatkan dalam takhta Inggris dalam perjanjian rahasia antara Edward dan penasihatnya.

Mendapat dukungan yang meluas, beberapa hari kemudian tepatnya pada 18 Juli 1553, Mary yang berusia 37 tahun berhasil naik takhta.

Mary menjadi ratu pertama yang memerintah Inggris melalui haknya sendiri, bukan menjadi ratu karena pernikahan dengan seorang raja.

Ratu Mary I dan suaminya, Philip. (History Extra) Ratu Mary I dan suaminya, Philip. (History Extra)
Dari situ akhirnya, Mary I berusaha untuk mengembalikan pernikahan orangtuanya secara sah.

Bertekad untuk membawa rakyatnya kembali pada gereja Roma dan agar saudara tirinya, Elizabeth, tidak menjadi penerus takhtanya, dia berkeinginan menikah dengan Phillip II dari Spanyol, putra Kaisar Charles V.

Phillip adalah pria yang 11 tahun lebih muda darinya.

Namun, sebagian besar penasihat menganjurkan agar dia menikahi sepupunya, Courtenay, yang masih berdarah kerajaan.

Bloody Mary

Mary tetap pada pendiriannya, termasuk permohonannya untuk menikahi Phillip.

"Pernikahan saya adalah urusan saya sendiri," katanya kepada parlemen.

Namun pemberontakan terjadi pada 1554 yang dipimpin oleh Sir Thomas Wyatt.

Mary kemudian membuat pidato luar biasa yang membangkitkan ribuan rakyat untuk memperjuangkannya. Wyatt dikalahkan dan dieksekusi.

Sang ratu pun menikahi Philip. Setelah itu, dia menegakkan kembali hukum yang menentang siapa pun yang dianggap sesat.

Selama lima tahun, dia mengeksekusi tanpa henti sekitar 300 orang yang dibakar di tiang panjang. Dari situlah, dia mendapat julukan sebagai Bloody Mary.

Dia dibenci dan suaminya memfitnah dan tak lagi percaya kepadanya sehingga dia sendiri yang disalahkan atas pembantaian kejam itu.

Baca juga: Biografi Tokoh Dunia: Junko Tabei, Perempuan Pertama Penakluk Puncak Everest

Sementara, aliansi dengan Spanyol menyeret Inggris ke dalam konflik militer dengan Perancis, yang membuatnya harus melepaskan Calais.

Halaman:
Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.