Penghargaan Aung San Suu Kyi Dicabut Amnesty, Ini Respon Myanmar

Kompas.com - 13/11/2018, 17:43 WIB
Pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi. AFP / ROSLAN RAHMANPemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi.

NAYPYIDAW, KOMPAS.com - Pemerintah maupun warga Myanmar membela pemimpin de facto mereka, Aung San Suu Kyi, setelah penghargaannya dicabut Amnesty International.

Suu Kyi mendapat penghargaan Ambassador of Conscience atau Duta Besar Hati Nurani dari organisasi kemanusiaan itu pada 2009.

Selain Suu Kyi, tokoh dunia lain yang pernah mendapat gelar itu adalah mendiang Nelson Mandela, Malala Yousafzai, dan aktivis China Ai Weiwei.

Baca juga: Amnesty International Cabut Penghargaan bagi Aung San Suu Kyi


Sekretaris Jenderal Amnesty Kumi Naidoo berkata, Suu Kyi telah melakukan pengkhianatan terhadap nilai-nilai yang pernah dibelanya.

Naidoo memaparkan, Suu Kyi telah menutup mata terkait perlakuan militer terhadap warga Rohingya, dan meningkatnya serangan terhadap kebebasan berekspresi di Myanmar.

AFP memberitakan Selasa (13/11/2018), salah seorang warga Myanmar bernama Khin Maung Aye mengeluhkan sikap Amnesty yang dinilai kekanak-kanakkan.

"Mereka seperti anak yang tidak cocok bergaul dengan anak lain kemudian pergi sambil meminta kembali mainannya," kata pria 50 tahun itu.

"Kami tidak butuh penghargaan dari mereka," tambah warga lain yang tinggal di Yangon bernama Htay Htay membela pemimpin berusia 73 tahun tersebut.

Juru bicara Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) Myu Nyunt mencurigai pencabutan penghargaan Suu Kyi merupakan bagian dari konspirasi besar.

Myo menjelaskan pencabutan itu tidak hanya melukai harga diri Suu Kyi. Namun juga seluruh anggota NLD yang lainnya.

"Organisasi itu bekerja bagi Bengalis yang telah meninggalkan negara mereka demi mendapatkan kewarganegaraan di sini," tambah Myo.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber AFP
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pria di Pakistan Lepaskan Singa Peliharaan Serang Tukang Listrik yang Tagih Bayaran

Pria di Pakistan Lepaskan Singa Peliharaan Serang Tukang Listrik yang Tagih Bayaran

Internasional
Tabrakan Bus dengan Kendaraan Berat, 35 Warga Asing Tewas dalam Perjalanan Umroh

Tabrakan Bus dengan Kendaraan Berat, 35 Warga Asing Tewas dalam Perjalanan Umroh

Internasional
Wanita Indonesia Ini Masuk dalam 100 Perempuan Berpengaruh Dunia Versi BBC

Wanita Indonesia Ini Masuk dalam 100 Perempuan Berpengaruh Dunia Versi BBC

Internasional
Kembali Ejek Pemimpin Hong Kong, Politisi Oposisi Pro-demokrasi Diusir

Kembali Ejek Pemimpin Hong Kong, Politisi Oposisi Pro-demokrasi Diusir

Internasional
Trump Marah Disebut Beri 'Lampu Hijau' untuk Serangan Turki ke Suriah

Trump Marah Disebut Beri "Lampu Hijau" untuk Serangan Turki ke Suriah

Internasional
Karena Turis Sering Tersesat, Kota di Italia Larang Penggunaan Google Maps

Karena Turis Sering Tersesat, Kota di Italia Larang Penggunaan Google Maps

Internasional
Keluarga Belanda yang Bersembunyi 9 Tahun 'Menunggu Hari Kiamat' Memakai 'Bahasa Khayalan'

Keluarga Belanda yang Bersembunyi 9 Tahun "Menunggu Hari Kiamat" Memakai "Bahasa Khayalan"

Internasional
AS Ancam Bakal Jatuhkan Sanksi Tambahan jika Turki Tak Hentikan Serangan ke Kurdi Suriah

AS Ancam Bakal Jatuhkan Sanksi Tambahan jika Turki Tak Hentikan Serangan ke Kurdi Suriah

Internasional
Kasus Keluarga Belanda Bersembunyi 9 Tahun 'Menunggu Kiamat', Pria Austria Ditahan

Kasus Keluarga Belanda Bersembunyi 9 Tahun "Menunggu Kiamat", Pria Austria Ditahan

Internasional
Surat Trump kepada Erdogan: Jangan Jadi Bodoh

Surat Trump kepada Erdogan: Jangan Jadi Bodoh

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] Keluarga di Belanda 'Menanti Kiamat' | Erdogan Tak Khawatir Disanksi AS

[POPULER INTERNASIONAL] Keluarga di Belanda "Menanti Kiamat" | Erdogan Tak Khawatir Disanksi AS

Internasional
Aktivis Pro-Demokrasi Hong Kong Dikeroyok Orang-orang Tak Dikenal Pakai Palu

Aktivis Pro-Demokrasi Hong Kong Dikeroyok Orang-orang Tak Dikenal Pakai Palu

Internasional
Filipina Diguncang Gempa Bermagnitudo 6,4, Ratusan Warga Menyelamatkan Diri

Filipina Diguncang Gempa Bermagnitudo 6,4, Ratusan Warga Menyelamatkan Diri

Internasional
Beralasan 'Menanti Kiamat', Satu Keluarga di Belanda Tinggal di Bawah Tanah selama 9 Tahun

Beralasan "Menanti Kiamat", Satu Keluarga di Belanda Tinggal di Bawah Tanah selama 9 Tahun

Internasional
Mabuk dan Gigit Polwan, Wanita Asal Selandia Baru Ini Dipenjara di Singapura

Mabuk dan Gigit Polwan, Wanita Asal Selandia Baru Ini Dipenjara di Singapura

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X