Cerita Korban Selamat Serangan di Masjid Mesir... - Kompas.com

Cerita Korban Selamat Serangan di Masjid Mesir...

Kompas.com - 27/11/2017, 13:19 WIB
Bangunan Masjid Rawda yang menjadi sasaran penyerangan teroris pada Jumat (24/11/2017) dan menewaskan 305 orang.STR / AFP Bangunan Masjid Rawda yang menjadi sasaran penyerangan teroris pada Jumat (24/11/2017) dan menewaskan 305 orang.

KAIRO, KOMPAS.com - Seorang korban selamat dalam serangan bersenjata di Masjid al-Rawdah Sufi di Bir al-Abed, Mesir, bercerita tentang tragedi yang membuatnya kehilangan sembilan anggota keluarga. Tragedi itu sendiri menewaskan lebih dari 300 orang itu.

Korban selamat yang menolak disebut namanya itu mengungkap bahwa ayahnya ikut menjadi korban tewas.

"Tidak ada yang keluar dari masjid," kata dia, berbicara di luar Rumah Sakit Umum Ismailia, dikutip dari CNN.com, Senin (27/11/2017).

Dia yakin bahwa suara tembakan terdengar hingga datangnya unit militer di wilayah tersebut.

"Namun mereka (militer) tidak bergerak. Bahkan ambulans pun mendapat ancaman," kata dia.

CNN tidak bisa memverifikasi lokasi unit markas militer di wilayah tersebut. Akses bagi wartawan asing sangat tertutup.

Dalam sebuah pernyataan, jaksa di Mesir menuturkan bahwa pelaku adalah sejumlah pria bersenjata yang mengenakan topeng. Seorang dari mereka tampak membawa bendera Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

(Baca: Militer Mesir Klaim Sudah Balas Penyerang Masjid dalam Serangan Udara)

Sedikitnya, kata jaksa tersebut, 27 anak terbunuh dalam peristiwa tersebut.

Korban selamat lainnya yang juga enggan namanya dipublikasikan mengatakan bahwa dia bersembunyi di bawah mayat korban yang sudah tewas.

Dia menghindar dari para pelaku yang masih mencari korban yang masih hidup.

Dia bercerita dengan mengenakan perban putih di matanya yang terkena pecahan peluru. Korban selamat itu duduk di trotoar di luar ruang gawat darurat di Rumah Sakit Suez Canal University.

Dia kehilangan saudaranya dan keponakannya dalam peristiwa itu. Sementara putranya yang berusia 14 tahun mengalami patah kaki.

"Saya baru tahu tentang anak saya beberapa jam kemudian," kata dia.

Warga menggotong korban luka akibat serangan brutal di masjid Rawda, provinsi Sinai Utara, Mesir.AFP Warga menggotong korban luka akibat serangan brutal di masjid Rawda, provinsi Sinai Utara, Mesir.
Di luar dua rumah sakit utama di Ismailia, yang terletak di timur laut Kairo dan sekitar dua jam perjalanan dari kota pesisir Bir Al-Abed, orang-orang duduk di atas selimut. Mereka menunggu kabar tentang saudara-saudara mereka yang terluka.

Mereka tidak ingin disebut namanya karena takut pada ISIS. ISIS bisa menarget untuk membunuh keluarga mereka.

"Mereka bisa membunuh kita," kata seorang yang selamat.

Di Ismailia, masyarakat setempat berkumpul untuk membantu korban serangan tersebut. 

Wessam Hassouna, seorang sukarelawan setempat, mengatakan bahwa orang-orang telah berkumpul untuk menyumbangkan darah. Lebih dari 15.000 kantong telah dikumpulkan.

Masjid Al Rawdah Sufi dikenal sebagai tempat kelahiran seorang ulama sufi. Hingga kini belum jelas motif penyerangan masjid tersebut.

Usai peristiwa serangan berdarah itu, Mesir berkabung selama tiga hari. Presiden Abdel Fattah el-Sisi melalui akun Facebook,mengungkapkan bahwa dia sudah memerintahkan angkatan bersenjata untuk membangun sebuah monumen bagi mereka yang terbunuh.

(Baca: Jokowi: Indonesia, Saya, Mengutuk Keras Serangan Bom di Mesir)

Sementara, Imam Agung Masjid Al Azhar, Ahmed El-Tayyeb, mengutuk "serangan barbar" dan mengatakan bahwa orang Mesir akan mengatasi terorisme dengan solidaritas dan tekad.

Al-Azhar dianggap sebagai otoritas keagamaan utama di Mesir, dan El-Tayyeb adalah tokoh dalam Islam Sunni.

Gamal Awad, seorang khotib senior di Kementerian Wakaf Agama, mengatakan satu-satunya cara untuk melawan teroris adalah dengan membunuh mereka.

Menurut dia, upaya pemerintah untuk meningkatkan kesadaran melalui masjid tidak bakal berhasil. Bagi Awad, tidak ada cara untuk memperdebatkan keyakinan para teroris. "Mereka akan membunuh lagi."

Kompas TV Serangan yang terjadi di Mesir terjadi saat khutbah jumat baru saja dimulai.


EditorBayu Galih
SumberCNN

Komentar
Close Ads X