Kompas.com - 11/07/2017, 23:00 WIB
EditorGlori K. Wadrianto

MARAWI, KOMPAS.com - Sudah tujuh minggu berlalu, sejak pertama kali bendera hitam Negara Islam di Irak dan Suriah, berkibar di Kota Marawi, Filipina selatan. 

Kibaran bendera tersebut menandai dimulainya perlawanan bersenjata oleh gerombolan teroris lokal yang mengaku berkiblat kepada kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS).

Selanjutnya, pertempuran tersebut telah menggusur sebagian besar penduduk Marawi yang berjumlah lebih dari 200.000 orang ke lokasi pengungsian.

Wajah kota cantik di tepian danau itu pun seketika berubah menjadi puing-puing yang menyeramkan.  

Baca: Marawi, Kota Indah di Mindanao yang Terkoyak

Banyak orang menyalahkan suku Maranao atas kehancuran tersebut.

Mereka menilai, salah satu suku asli beragama Muslim di wilayah Mindanao selatan itu telah membiarkan para teroris datang ke kota itu.

Bahkan, Presiden Rodrigo Duterte mengaku marah kepada mereka, karena mengizinkan kelompok teroris Maute, mendirikan basis di sana, hingga mengumpulkan senjata dan amunisi.

Baca: Kelompok Maute Paksa Sandera dan Anak-anak Memerangi Tentara

Tentang tanggapan itu, Zia Alonto Adiong berbicara kepada Pemerintah Provinsi Lanao pada hari Minggu kemarin.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.