Mahkamah Agung Dukung Duterte soal Status Darurat Militer di Marawi

Kompas.com - 04/07/2017, 12:45 WIB
Seorang tentara berjaga saat warga berjalan menuju sebuah truk setelah diselamatkan dari rumah mereka di sebuah desa di pinggiran Marawi, Filipina, Rabu (31/5/2017). Pertempuran berdarah terjadi antara militer Filipina dengan pasukan Maute di Marawi dalam upaya menangkap pemimpin kelompok Abu Sayyaf, Isnilon Hapilon. AFP PHOTO / TED ALJIBESeorang tentara berjaga saat warga berjalan menuju sebuah truk setelah diselamatkan dari rumah mereka di sebuah desa di pinggiran Marawi, Filipina, Rabu (31/5/2017). Pertempuran berdarah terjadi antara militer Filipina dengan pasukan Maute di Marawi dalam upaya menangkap pemimpin kelompok Abu Sayyaf, Isnilon Hapilon.
EditorGlori K. Wadrianto

MANILA, KOMPAS.com - Mahkamah Agung Filipina mendukung langkah Presiden Rodrigo Duterte untuk menerapkan status darurat militer di wilayah selatan negara itu.

Dalam keputusan di Manila, Selasa (4/7/2017), disebutkan, status darurat militer tersebut diperlukan sebagai bagian dari upaya mengalahkan kelompok teroris Islam. 

Mayoritas hakim menolak petisi dari anggota parlemen oposisi yang meminta pemerintahan Duterte mencabut status darurat militer di Mindanao.

Demikian dijelaskan Jurubicara Mahkamah Agung, Theodore Te seperti dikutip kantor berita AFP.

 

Seperti yang telah diberitakan, sejak akhir bulan Mei lalu, Duterte menerapkan status darurat militer di wilayah Minadao Selatan.

Kala itu, pecah pertikaian bersenjata di kota berpenduduk Muslim terbesar di Filipina, Marawi. Hingga kini konflik tersebut masih berlangsung.

Keputusan Presiden Duterte terkait status darurat militer tersebut mengundang pertanyaan dan kritik keras, dari kubu oposisi. 

Baca: Duterte Ancam Penjarakan Para Pengkritik Darurat Militer di Marawi

Kubu tersebut bulan lalu meminta Mahkamah Agung untuk menolak deklarasi darurat militer, yang mereka sebut inkonstitusional.

Sebab, Konstitusi 1987 memberlakukan pembatasan darurat militer untuk mencegah terulangnya pelanggaran seperti yang terjadi di masa pemerintahan Ferdinand Marcos.

Marcos digulingkan oleh revolusi "Kekuatan Rakyat" yang terkenal di tahun sebelumnya.

Piagam tersebut memungkinkan Mahkamah Agung untuk meninjau kembali basis faktual dalam penetapan status darurat militer.

Status tersebut dibatasi dalam periode awal selama 60 hari.

Selanjutnya, jika seorang presiden memutuskan untuk memperpanjang darurat militer, kongres dapat meninjau dan mencabutnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Di Ulang Tahun ke-16, Seorang Remaja Tembaki Sekolah dan Bunuh 2 Orang di AS

Di Ulang Tahun ke-16, Seorang Remaja Tembaki Sekolah dan Bunuh 2 Orang di AS

Internasional
Rusia Diduga Telepon Pemberontak Ukraina yang Jatuhkan Pesawat Malaysia Airlines MH17

Rusia Diduga Telepon Pemberontak Ukraina yang Jatuhkan Pesawat Malaysia Airlines MH17

Internasional
Dapat Mosi Tidak Percaya, Pemerintah Kuwait Mengundurkan Diri

Dapat Mosi Tidak Percaya, Pemerintah Kuwait Mengundurkan Diri

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] Istri Habis Rp 600 Juta di Harbolnas, Suaminya Ingin Bunuh Diri | Israel Ditembaki Roket

[POPULER INTERNASIONAL] Istri Habis Rp 600 Juta di Harbolnas, Suaminya Ingin Bunuh Diri | Israel Ditembaki Roket

Internasional
Israel Klaim 1 Lagi Komandan Jihad Islam dan Keluarganya Tewas dalam Serangan

Israel Klaim 1 Lagi Komandan Jihad Islam dan Keluarganya Tewas dalam Serangan

Internasional
Berdebat dengan Demonstran Hong Kong, Kepala Pria 70 Tahun Dilempar Batu Bata

Berdebat dengan Demonstran Hong Kong, Kepala Pria 70 Tahun Dilempar Batu Bata

Internasional
Dianggap Terlalu Awal, Keluarga di Texas Ini Diminta Copot Hiasan Natal

Dianggap Terlalu Awal, Keluarga di Texas Ini Diminta Copot Hiasan Natal

Internasional
Ekor Anak Anjing Ini Tumbuh di Kepala

Ekor Anak Anjing Ini Tumbuh di Kepala

Internasional
Komandannya Tewas Diserang, Jihad Islam Tembakkan Roket Tiap 7 Menit ke Israel

Komandannya Tewas Diserang, Jihad Islam Tembakkan Roket Tiap 7 Menit ke Israel

Internasional
Hadapi Polisi, Pelajar Hong Kong Mempersenjatai Diri dengan Panah dan Tombak

Hadapi Polisi, Pelajar Hong Kong Mempersenjatai Diri dengan Panah dan Tombak

Internasional
Menlu Retno: Saatnya Wanita Bekerja Bersama Membawa Panji Toleransi

Menlu Retno: Saatnya Wanita Bekerja Bersama Membawa Panji Toleransi

Internasional
Datang ke AS, Erdogan Mengaku Kembalikan Surat yang Ditulis Trump

Datang ke AS, Erdogan Mengaku Kembalikan Surat yang Ditulis Trump

Internasional
Mantan Pemimpin ISIS Baghdadi Pasang Koneksi Internet di Persembunyiannya

Mantan Pemimpin ISIS Baghdadi Pasang Koneksi Internet di Persembunyiannya

Internasional
Ribuan Burung Mati Misterius di Danau Pedalaman India

Ribuan Burung Mati Misterius di Danau Pedalaman India

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] Sungai di Korsel Berubah Merah karena Darah Babi | Pria Diborgol karena Sandwich

[POPULER INTERNASIONAL] Sungai di Korsel Berubah Merah karena Darah Babi | Pria Diborgol karena Sandwich

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X