Kisah Pono, Anak Penjual Sayur yang Menang Olimpiade Matematika di Malaysia

Kompas.com - 06/12/2016, 16:38 WIB
Keluarga Pono Marten Kompas.com/David Oliver PurbaKeluarga Pono Marten
|
EditorAna Shofiana Syatiri

KINABALU, KOMPAS.com — Di dalam sebuah bangunan bertingkat dua, Pono terlihat asyik bermain bersama teman sebayanya. Canda tawa terdengar hingga ke pekarangan bangunan yang juga merupakan tempat Pono dan temannya mengenyam pendidikan.

Pono merupakan salah satu murid di Community Learning Center (CLC) Kundasang, Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia. CLC Kundasang merupakan salah satu sekolah yang didirikan Pemerintah Indonesia untuk anak-anak Indonesia yang ada di Sabah, Malaysia.

Pono saat ini berusia 14 tahun. Dia duduk di bangku kelas III SMP. Tubuhnya tak terlalu tinggi, tak pula terlalu pendek. Warna kulitnya kuning langsat seperti orang Indonesia kebanyakan. Namun, yang membedakan ialah otaknya yang "encer" dibanding anak seusianya.

Di CLC Kundasang, Pono terkenal cerdas. Matematika merupakan mata pelajaran favoritnya. Guru-guru yang mengajar di CLC Kundasang mengakui bahwa Pono merupakan anak yang cerdas. Bahkan, tak jarang Pono diminta menjelaskan kepada murid lain terkait pelajaran matematika yang tengah diajarkan.

"Saya suka matematika karena ilmu pasti," ujar Pono saat berbincang dengan Kompas.com, Minggu (4/12/2016).

Kecerdasannya semakin terlihat saat menjuarai Olimpiade Matematika yang diadakan oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kuala Lumpur. Olimpiade Matematika itu mengikutsertakan semua sekolah Indonesia yang ada di Malaysia dan Singapura.

Puluhan anak bersaing untuk menang, tak terkecuali Pono yang berasal dari CLC terpencil yang terletak di bawah kaki Gunung Kinabalu. Pono menjuarai Olimpiade dengan mengalahkan anak-anak dari sekolah Indonesia yang lebih terkenal, lebih mapan, serta memiliki fasilitas belajar yang lebih mencukupi dibanding sekolah Pono.

Pono merupakan anak dari seorang guru lokal bernama Marten dan ibu bernama Tabita. Keluarga Pono telah tinggal di Kundasang selama puluhan tahun. Pono memiliki tujuh saudara.

Adapun Pono lahir di Kundasang. Tempat tinggal Pono berada di kaki Gunung Kinabalu. Rumahnya berbahan kayu dan seng sebagai atapnya.

Sehari-hari, Pono pergi sekolah dengan menyewa mobil dengan biaya sekitar 35 ringgit Malaysia per bulannya. Pono lebih dulu harus berjalan sekitar 20 menit untuk menjangkau mobil sewaan yang setiap hari telah menunggu di jalan raya.

Untuk membiayai hidup, keluarga Pono menggantungkan pengharapan dari berkebun. Sayuran kol dan daun sop jadi tanaman pokok yang harus dijual untuk mengisi perut.

Halaman:
Menangkan Samsung A71 dan Voucher Belanja. Ikuti Kuis Hoaks / Fakta dan kumpulkan poinnya. *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kerusuhan India: Kisah Pria yang Dipukuli karena Berjenggot dan Pakai Gamis

Kerusuhan India: Kisah Pria yang Dipukuli karena Berjenggot dan Pakai Gamis

Internasional
Dampak Virus Corona, Cathay Pacific dan Singapore Airlines Liburkan Pegawainya Tanpa Dibayar

Dampak Virus Corona, Cathay Pacific dan Singapore Airlines Liburkan Pegawainya Tanpa Dibayar

Internasional
Arab Saudi Tangguhkan Visa Umrah, Ini Negara Tetangganya yang Positif Virus Corona

Arab Saudi Tangguhkan Visa Umrah, Ini Negara Tetangganya yang Positif Virus Corona

Internasional
Kerusuhan India, 23 Orang Tewas dalam Demo Menentang UU Kewarganegaraan

Kerusuhan India, 23 Orang Tewas dalam Demo Menentang UU Kewarganegaraan

Internasional
23 Orang Tewas di Kerusuhan India, tapi Ada Juga Demo yang Berlangsung Sunyi

23 Orang Tewas di Kerusuhan India, tapi Ada Juga Demo yang Berlangsung Sunyi

Internasional
Keturunan WNI Tanpa Identitas di Malaysia Bertemu Ibu Kandung Setelah 15 Tahun

Keturunan WNI Tanpa Identitas di Malaysia Bertemu Ibu Kandung Setelah 15 Tahun

Internasional
Mahathir Mohamad Merasa Belum Waktunya Mundur

Mahathir Mohamad Merasa Belum Waktunya Mundur

Internasional
Korban Meninggal karena Virus Corona di Iran Bertambah Empat, Total Ada 19

Korban Meninggal karena Virus Corona di Iran Bertambah Empat, Total Ada 19

Internasional
Mahathir Mohamad Ingin Bentuk Pemerintahan yang Pro pada Kepentingan Nasional

Mahathir Mohamad Ingin Bentuk Pemerintahan yang Pro pada Kepentingan Nasional

Internasional
Virus Corona, Perancis Umumkan Kematian Pertama dari Warga Negaranya

Virus Corona, Perancis Umumkan Kematian Pertama dari Warga Negaranya

Internasional
Pertama Kalinya, Liga Sepak Bola Putri Arab Saudi Diluncurkan

Pertama Kalinya, Liga Sepak Bola Putri Arab Saudi Diluncurkan

Internasional
Cerita Warga Codogno, Kota Berjuluk 'Wuhannya Italia', di Tengah Wabah Virus Corona

Cerita Warga Codogno, Kota Berjuluk "Wuhannya Italia", di Tengah Wabah Virus Corona

Internasional
Kerusuhan New Delhi Kian Mencekam, Total 20 Orang Tewas

Kerusuhan New Delhi Kian Mencekam, Total 20 Orang Tewas

Internasional
Wabah Virus Corona, Ritual Rabu Abu di Filipina Berubah

Wabah Virus Corona, Ritual Rabu Abu di Filipina Berubah

Internasional
Tentara AS yang Bertugas di Korea Selatan Terinfeksi Virus Corona

Tentara AS yang Bertugas di Korea Selatan Terinfeksi Virus Corona

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X