Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 27/06/2016, 12:32 WIB

MANILA, KOMPAS.com - Presiden terpilih Filipina Rodrigo Duterte, Senin (27/6/2016), menyebut para aktivis HAM "bodoh" di saat dia mempertahankan kebijakan perang terhadap kejahatan dan hukuman mati terhadap pelaku kejahatan.

Dalam pidatonya yang panjang di kampung halamannya Davao, Duterte kembali menyampaikan visinya saat memerintah Filipina saat dia resmi menjabat pada Kamis (30/6/2016).

"Kelompok-kelompok aktivis HAM dan anggota kongres, betapa bodohnya kalian," kata Duterte terkait kritik terhadap rencananya menjalankan jam malam untuk anak-anak dan kembali melaksanakan hukuman mati.

"Saya sangat percaya pada retribusi. Mengapa? Anda harus membayar. Saat Anda membunuh atau memperkosa seseorang maka Anda harus mati," ujar Duterte.

Duterte (71) memenangkan pemilihan presiden setelah kampanyenya sebagian besar diwarnai janji untuk menangani tingkat kejahatan yang tinggi di Filipina.

Dia bahkan memperingatkan, tanpa tindakan tegas maka Filipina bisa berubah menjadi sebuah negara narkotika.

Dalam kampanyenya, Duterte berjanji akan membunuh puluhan ribu penjahat dan dia memerintahkan polisi menerapkan kebijakan tembak di tempat untuk para pelaku kriminal.

Para aktivis HAM Filipina dan internasional sangat prihatin karena khawatir di saat Duterte menjadi presiden maka pembunuhan tanpa pengadilan akan bertambah, sama seperti yang terjadi di Davao.

Kepada Komisi HAM PBB, Zeid Ra'ad Al Hussein bahkan menyerukan agar Duterte tidak mengembalikan hukuman mati dalam sistem judisial Filipina.

Dia juga mengkritik cara Duterte dalam memerangi kejahatan misalnya menjanjikan uang hadiah bagi warga yang menewaskan seorang pelaku kriminal.

"Janji pemberian uang atau hadiah lain bagi warga yang membunuh pelaku kriminal dan dorongannya agar aparat keamanan melakukan tembak di tempat, meripakan sebuah langkah mundur yang dapat memicu kekerasan dan kekacauan," kata Zeid.

Meski mendapat "serangan" dari berbabagi penjuru, Duterte bergeming dan tak berniat sedikitpun mengendurkan kebijakan kerasnya itu.

"Saat mereka menggambarkan seorang pelanggar HAM, orang-orang bodoh ini membuat para penjahat ini sebagai orang suci, membuat mereka harus dikasihani atau terlihat tak bersalah," ujar Duterte.

Duterte bahkan pernah mengatakan, dia ingin hukuman mati dilakukan dengan cara digantung agar menghemat peluru aparat keamanan.

Selain itu, Duterte yakin, hukuman gantung jauh lebih manusiawi ketimbang hukuman mati dengan cara lainnya.

Filipina menghapuskan hukuman mati pada 2006 menyusul desakan dari Gereja Katolik yang menjadi panutan 80 persen warga Filipina.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber AFP
Video rekomendasi
Video lainnya


Rekomendasi untuk anda

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com