Kompas.com - 29/03/2016, 11:54 WIB
|
EditorPascal S Bin Saju

JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerintah Indonesia telah berusaha melacak keberadaan 10 WNI awak kapal yang diculik oleh kelompok Abu Sayyaf, Filipina selatan. Namun, posisi mereka bersama satu kapal, dari dua kapal yang disandera, saat ini belum terdeteksi.  

Kementerian Luar Negeri RI, Selasa (29/3/2016), mengonfirmasi pembajakan dua kapal Indonesia, yakni kapal tunda Brahma 12 dan kapal tongkang Anand 12. Pembajakan oleh kelompok Abu Sayyaf di Filipina itu terjadi pada hari sebelumnya.

Juru bicara Kemenlu RI, Arrmanantha Nasi, dalam pesan singkatnya mengatakan, kapal mengangkut 7.000 ton batubara. Sebanyak 10 awak kapal berkebangsaan Indonesia juga telah disandera.

"Kami telah menerima informasi awal dari sejumlah pihak mengenai adanya dua kapal berbendera Indonesia yang dibajak dan 10 WNI awak kapal telah disandera di perairan Filipina," kata Tata, sapaan akrabnya.

Kemenlu RI telah melakukan penelusuran dan komunikasi dengan pemilik kapal serta sejumlah pihak di Filipina. "Saat dibajak, kedua kapal dalam perjalanan dari Sungai Puting, Kalimantan Selatan, menuju Batangas, Filipina Selatan," ujar Tata.

Tata mengatakan, Kemenlu tidak mengetahui secara pasti kapan dan di mana tepatnya kapal itu dibajak. Informasi yang diperoleh dari aparat keamanan menyebutkan, kapal dibajak di perairan Tawi-tawi, Filipina selatan.

Pihak Kemenlu, kata Tata, baru mengetahui ada pembajakan pada Minggu (26/3/2016), pada saat menerima telepon dari seseorang yang mengaku dari kelompok Abu Sayyaf.

Kapal Brahma 12 sudah dilepaskan dan saat ini sudah di tangan otoritas Filipina. Sementara itu, kapal Anand 12 dan 10 awak WNI masih disandera kelompok yang mengklaim dari Abu Sayyaf. Posisi mereka juga belum diketahui pasti.

Dalam komunikasi dengan perusahaan pemilik kapal, pembajak atau penyandera menyampaikan tuntutan sejumlah uang tebusan. Sejak Minggu, kelompok pembajak telah dua kali menghubungi pihak pemilik kapal itu.

Untuk menangani kasus itu, Menlu RI Retno Marsudi terus berkomunikasi dan berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait di Indonesia dan Filipina. Prioritas yang dilakukan adalah upaya penyelamatan 10 awak kapal itu.

Perusahaan telah menyampaikan kondisi tersebut kepada keluarga.

Abu Sayyaf adalah kelompok separatis yang terdiri dari milisi Islam garis keras yang berbasis di Filipina selatan. Kemenlu RI belum mau mengonfirmasi berapa jumlah uang tebusan yang diminta.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.