Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Setelah 36 Hari "Terkubur", 4 Petambang China Diselamatkan

Kompas.com - 30/01/2016, 22:49 WIB
SHANGHAI, KOMPAS.com - Empat orang petambang di China, yang terjebak di bawah tanah selama 36 hari dalam sebuah kecelakaan akibat runtuhnya sebuh tambang gipsum,  berhasil ditarik keluar Jumat (30/1/2016)  malam. Itu merupakan sebuah peristiwa penyelamatan yang ajaib di sebuah negara dengan dengan track record yang buruk dalam penanganan kecelakaan industrial.

Operasi tahap final untuk menyelamatkan para petambang yang terjebak di bawah tanah dengan kedalaman lebih dari 200 meter itu memakan waktu dua jam saat mereka diangkat satu per satu dalam sebuah alat semacam kapsul, lapor CCTV.

Empat orang tersebut termasuk dalam 29 orang yang terjebak saat tambang runtuh pada 25 Desember lalu. Namun seorang pejabat lokal mengatakan belum ada kontak dengan 13 orang petambang lainnya yang masih hilang.

Kejadian itu mengingatkan orang akan kecelakaan tambang di Cile pada tahun 2010. Saat 33 orang terjebak di bawah tanah selama 69 hari sebelum diselamatkan.
"Ini adalah sebuah keajaiban," kata Zeng Kunyuan di mikroblog Weibo, semacam twitter di China.

"Saya berharap mereka bisa duduk bersama di meja makan saat malam perayaan tahun baru," bunyi posting-an tersebut, merujuk pada tahun baru Imlek yang akan datang dimana orang-orang akan pulang untuk makan makanan tradisional bersama keluarga mereka.

Potongan gambar yang dramatis dirilis CCTV menunjukkan para kru penyelamat bertepuk tangan saat orang-orang tersebut diangkat keluar di Provinsi Shandong China timur.

Dari 29 orang yang terjebak, satu ditemukan tewas dan 11 orang diselamatkan sehari setelah kecelakaan. Namun, belum ada kontak dengan 13 sisanya yang masih dinyatakan hilang.

"Kami menggunakan alat pendeteksi kehidupan untuk mencari mereka. Sayangnya kami belum mendengar dari 13 petambang yang masih belum ditemukan," demikian disampaikan Zhang Shuping, walikota Linyi City, sebagaimana dikutip CCTV.

Empat orang yang telah diselamatkan masih terbungkus dalam selimut militer, mengenakan penutup mata untuk melindungi mata mereka dan dimasukkan ke dalam ambulans. Mereka adalah Zhao Zhicheng, 50 tahun, Li Qiusheng, 39, Guan Qingji, 58, dan Hua Mingxi, 36.

"Terima kasih", ucap Guan saat ia diangkat keluar tergantung pada seutas kabel yang menahan dirinya berikut serangkaian rungkup tubuh yang dililitkan ke tubuhnya.

Keempatnya tidak mengalami luka berat dan dalam waktu singkat bisa kembali pulang, kata kantor berita Xinhua yang mengutip Cao Qingde, wakil kepala rumah sakit setempat dimana mereka dirawat.

Para penyelamat pertama kali mendeteksi sinyal kehidupan pada tanggal 30 Desember. Tim penyelamat berhasil menghubungi para petambang, demikian dilaporkan, dan mengirimkan makanan, pakaian, serta lampu melalui sebuah terowongan.

Namun, kondisi geologis yang rumit membuat penyelamatan sulit dilakukan. Pasalnya struktur terowongan tidak stabil dan batu-batu yang berjatuhan.

Pejabat pemerintah mengatakan bahwa ini menandai penyelamatan pertama di China dengan cara seperti ini, yaitu dengan menggunakan pengeboran batu menggunakan kepala bor besar.

"Ini merupakan sejarah baru dalam tindakan penyelamatan di China," demikian disampaikan Gao Guangwei dari bagian Keselamatan Kerja Administrasi negara kepada CCTV.

Kecelakaan ini merupakan kecelakaan paling mematikan disebuah negara di mana peraturan keselamatan seringkali diabaikan untuk menghemat biaya.

Diluar segala puja-puji atas penyelamatan tersebut, beberapa posting online menuntut pertanggungjawaban.

"Merasa bangga? Bukannya sekarang waktunya untuk menuntut pertanggungjawaban seseorang?", menurut salah satu postingan.

Pemilik tambang melakukan bunuh diri dengan menenggelamkan dirinya di tempat kejadian tak lama setelah longsor terjadi, demikian pernah dilaporkan Xinhua.

Penyebab logsor masih dalam penyelidikan, namun peraturan keselamatan industrial memang sering diabaikan di Tiongkok dan korupsi memungkinkan pada bos mengejar untung dengan taruhan keselamatan para pekerja.

Empat pejabat di Pingyi, dimana tambang tersebut berada, termasuk ketua partai dan kepala pemerintah di daerah tersebut, dicopot dari posisi mereka setelah kejadian itu.  

Tambang Gipsum itu dan tambang-tambang lain di sekitarnya diperintahkan untuk menghentikan produksi pada Oktober oleh otoritas lokal karena risiko akibat banyaknya lubang-lubang pembuangan. Namun mereka terus beroperasi diam-diam, demikian Beijing Times melaporkan.

Kecelakaan akibat lemahnya penegakan keselamatan industri mengakibatkan ratusan orang tewas di China tahun lalu. Kecelakan itu termasuk tanah longsor yang disebabkan oleh pembuangan sampah di pusat perdagangan di Shenzhen pada Desember dan ledakan kimia di kota industri Tianjin pada Agustus.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com