Kompas.com - 20/04/2015, 11:06 WIB
EditorEgidius Patnistik
WASHINGTON, KOMPAS.com — Gedung Putih, Minggu (19/4/2015) waktu setempat, mengecam eksekusi yang dilaporkan terhadap 30 orang Kristen Etiopia di Libya sebagai "pembunuhan massal yang brutal". Kecaman tersebut menyusul sebuah video yang dirilis militan Negara Islam atau ISIS yang mengklaim bertanggung jawab atas pembunuhan itu.

Video berdurasi 29 menit itu menunjukkan kaum militan membawa dua kelompok tawanan, yang dijelaskan dalam keterangan teks sebagai "para pengikut salib dari Gereja Etiopia".

Seorang militan bertopeng hitam yang mengacungkan pistol membuat pernyataan yang mengancam orang Kristen jika mereka tidak mau pindah agama.

Washington mengecam pembunuhan itu dan menyerukan stabilitas di Libya, yang telah terperosok dalam kekacauan politik dan kerusuhan sejak pemberontakan tahun 2011 yang menggulingkan mantan orang kuat Moamar Khadafy.

"Amerika Serikat mengecam keras pembunuhan massal yang brutal terhadap orang-orang yang diduga merupakan orang Kristen Etiopia oleh teroris ISIS cabang Libya," kata juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS, Bernadette Meehan, dalam sebuah pernyataan. "Kekejaman ini sekali lagi menggarisbawahi kebutuhan mendesak bagi sebuah resolusi politik untuk konflik di Libya guna memberdayakan penolakan bersama Libya terhadap kelompok teroris."

Meehan mengecam pembunuhan berdasarkan agama dan mengatakan Amerika Serikat akan melawan setiap "tindakan teror yang menghancurkan kemanusiaan". 

"Bahwa para teroris itu membunuh orang-orang tersebut semata-mata karena iman telah menelanjangi kekejaman dan kebrutalan tidak berperasaan para teroris," katanya. "Orang-orang di semua agama akan tetap bersatu dalam menghadapi kebiadaban teroris. Amerika Serikat berdiri bersama mereka."

Etiopia juga mengecam pembunuhan itu dan mengatakan kedutaannya di Mesir berusaha untuk memverifikasi video tersebut guna memastikan apakah mereka yang dibunuh memang benar orang Etiopia.

Beberapa kelompok jihad Libya telah berjanji setia kepada kelompok ISIS sejak negara jatuh ke dalam kekacauan.

Sejak pemberontakan tahun 2011, Libya telah dibanjiri senjata dan berada di tepi perang habis-habisan saat kelompok bersenjata bertempur untuk mengontrol kota-kota dan kekayaan minyak negara itu.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber AFP


Video Pilihan Video Lainnya >

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.