Kompas.com - 18/08/2014, 16:39 WIB
EditorErvan Hardoko
WASHINGTON DC, KOMPAS.com — Setelah pimpinan Al-Qaeda Osama bin Laden tewas, kini AS direpotkan oleh seorang musuh baru, yaitu Abu Bakr al-Baghdadi, pimpinan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Berbeda dengan Osama bin Laden, yang meski membutuhkan waktu 10 tahun untuk memburu dan membunuhnya, AS sudah mencium jejaknya di Afganistan dan Pakistan.

Namun, Al-Baghdadi adalah sosok yang berbeda. Pria berusia 42 tahun ini sama sekali tak meninggalkan jejak, kecuali puluhan ribu pejuangnya yang mencaplok wilayah utara Irak dan sebagian wilayah Suriah.

Berbeda dengan Al-Qaeda yang "terukur" dalam memilih target, ISIS jauh lebih brutal dengan membunuh semua yang dianggap tak sealiran dan sejalan dengan ideologi yang mereka anut.

Nah, untuk melacak jejak Abu Bakr al-Baghdadi yang pernah menghebohkan media sosial karena mengenakan jam tangan mewah itu, Pemerintah AS, dalam hal ini CIA, mengerahkan 100 agen dan membentuk pasukan khusus hanya untuk mengejar Al-Baghdadi yang dijuluki "Si Hantu" itu.

Boleh jadi inilah operasi kontraterorisme terbesar yang pernah digelar AS setelah melacak dan akhirnya membunuh Osama bin Laden pada 2011.

CIA dengan segala sumber dayanya mengumpulkan data pembicaraan telepon dan mempelajari semua pergerakan di Irak dan Suriah dengan menggunakan drone, satelit, hingga agen-agen lapangan mereka.

"Al-Baghdadi ini memang sulit dicari, tetapi dia akan ditemukan suatu hari. Pasukannya tersebar sehingga hubungan telepon pasti dilakukan. Inilah yang menjadi titik lemahnya," ujar seorang sumber di CIA.

Saat ini, 25.000 orang anggota ISIS yang dikendalikan Al-Baghdadi berhasil menguasai sebagian wilayah Irak dan Suriah, sesuatu yang tak pernah dicapai Al-Qaeda.

Dalam penaklukannya ini, ISIS menduduki puluhan kota besar dan kecil serta membantai ribuan orang yang dianggap sebagai "musuh" kekhalifahan Islam yang diproklamasikannya. Situasi ini membuat AS dan Inggris mau tak mau kembali terlibat dalam pusaran konflik bersenjata di Timur Tengah.

Pekan lalu, pasukan khusus Inggris diterbangkan ke Arbil, ibu kota Kurdi, untuk melakukan penyelamatan pengungsi Yazidi, sebuah misi yang kemudian dibatalkan.

Selain itu, pesawat-pesawat mata-mata Inggris juga terus mengumpulkan informasi intelijen terkait pergerakan ISIS yang kemudian informasi itu akan dibagi dengan pasukan Kurdi, Irak, dan Amerika Serikat.

Pemerintah Inggris mengakui, misi di Irak kali ini bukan sekadar misi kemanusiaan dan pasukan Inggris sangat mungkin terlibat baku tembak melawan pasukan ISIS. "Kami tak bisa mengatakan bagaimana hal ini akan diselesaikan. Ini bukan misi kemanusiaan semata," kata Menteri Pertahanan Inggris Michael Fallon.

AS, yang sudah menarik pasukannya dari Irak sejak 2011, ternyata tak bisa terus tak terlibat dalam konflik di Irak ini. Presiden Barack Obama bahkan memerintahkan serangan udara terhadap ISIS dan kemudian menjanjikan bantuan persenjataan untuk pasukan Kurdi yang memerangi ISIS.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.