Kompas.com - 17/07/2014, 09:30 WIB
EditorPalupi Annisa Auliani

GAZA CITY, KOMPAS.com - Suara ledakan membelah udara di pantai Gaza, Rabu (16/7/2014) petang, menarik perhatian warga yang tinggal di bangunan-bangunan di kawasan itu. Apalagi, suara ledakan itu disusul dengan pekik ketakutan anak-anak yang berlari bergerombol.

Saat itu, asap mengepul di latar kerumunan anak-anak ini. Orang-orang yang melihat pun turut panik dan mereka mencari perlindungan ke sebuah hotel yang ada di sana. Namun, ledakan lain kembali menghantam kawasan itu, dalam balutan warna oranye dan asap.

Sebuah pondok yang biasa dipakai para nelayan hancur dalam serangan ini. Rombongan anak-anak tersebut masih terus berlari ketakutan dan mencari perlindungan. Namun, tak semuanya ikut berlari. Sebagian anak tertinggal. Empat bocah tewas.

Juru Bicara Layanan Darurat Palestina, Ashraf al-Qudra, menyebutkan empat bocah yang tewas itu bersaudara sepupu. Mereka adalah Ahed Atef Bakr (10), Zakaria Ahed Bakr (10), Mohamed Ramez Bakr (9), dan Ismail Mohamed Bakr (11). 

Rombongan anak-anak yang sama terus berlari dalam ketakutan dan tangis. Di perlindungan mereka di hotel, sebagian dari mereka kedapatan terluka. Hamed Bakr (13) misalnya, berdarah-darah dengan pecahan peluru menembus dada. "Sakit, dada saya sakit," ratap dia.

Beberapa jam setelah serangan, militer Israel dalam sebuah pernyataan mengakui kejadian ini tragis dan menyatakan sedang menyelidiki insiden tersebut. "Berdasarkan hasil awal target serangan ini adalah operasi teroris Hamas," kata pernyataan itu. "Korban sipil yang dilaporkan dari serangan ini adalah hasil yang tragis."

Setidaknya 220 warga Palestina telah tewas di Gaza dalam sembilan hari sejak Israel menggelar operasi Protective Edge. Adapun dari Hamas, lebih dari seribu roket sudah dilontarkan ke wilayah Israel, dan satu warga Israel tewas karenanya.

Jasad empat bocah bersaudara sepupu itu kemudian dibawa ke Masjid Abu Hasira, tak jauh dari tempat mereka menghembuskan napas penghabisan. Badan dingin mereka dibungkus kain kuning bendera Partai Fatah, di depan para pelayatnya.

"Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun, dari Allah kita datang dan hanya kepada-Nya kita akan kembali," kata imam mengawali doa pemakaman. Namun, Khamis Bakr (47) tetap terguncang.

"Mereka bermain di pantai. Mereka pergi ke sana untuk menjauh dari Beach Camp karena ada banyak penembakan di sana," ratap Bakr. "(Namun) mereka malah berjalan tepat ke kematian mereka."

Kakek Zakaria tak kurang terpukul. Dia mendekati keempat jasad dengan berlutut. "Anak-anak hanya bermain, mereka berkata ke ibu masing-masing bahwa mereka akan pergi ke pantai." Dia pun bertutur keluarganya tak tahu apa-apa sampai mendengar ada serangan. "Dan kemudian saya tahu anak-anak ini sudah pergi."

Insiden di Pantai Gaza ini telah memaksa Israel memenuhi tuntutan Perserikatan Bangsa-Bangsa, untuk menghentikan serangan mereka ke Gaza. Namun, Israel hanya menghentikan sementara serangan itu selama lima jam, Kamis (17/7/2014) pukul 10.00 waktu setempat hingga pukul 15.00 waktu setempat, atau pukul 14.00 WIB sampai pukul 19.00 WIB.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Video Pilihan

Sumber
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.