Kompas.com - 04/04/2014, 22:07 WIB
EditorErvan Hardoko
MOMBASA, KOMPAS.com - Aparat kepolisian Kenya dan para pemuda Muslim di kota Mombasa terlibat bentrokan, Jumat (4/4/2014) tak lama setelah ibadah shalat Jumat berakhir. Bentrokan ini terjadi beberapa hari setelah seorang ulama radikal ditembak mati di kota pelabuhan itu.

Aparak kepolisian terlihat ketat menjaga masjid Musa, yang oleh pemerintah Kenya dianggap sebagai pusat propaganda terorisme dan lokasi perekrutan pada pejuang militan.

Pada Selasa (1/4/2014), seorang ulama yang kerap dikaitkan dengan masjid Musa ini, Abubakar Shariff Ahmed alias Makaburi ditembak mati di kota pelabuhan kitu.

Makaburi adalah pendukung Al-Qaeda dan kelompok militan Somalia, Al-Shabab. Sebelum tewas, Makaburi kerap mengatakan aparat keamanan Kenya sudah berulang kali mencoba membunuhnya.

Kematian Makaburi itu, tidak bisa diterima para pengikutnya, yang setelah menjalankan ibadah shalat Jumat di masjid Musa lalu terlibat aksi lempar batu melawan aparat keamanan yang kemudian melepaskan tembakan gas air mata.

Polisi dengan cepat menguasai keadaan dan membubarkan para pengunjuk rasa, sementara para ulama di masjid Musa menyerukan agar kedua pihak menahan diri.

"Saat para sheik dibunuh, polisi hanya melihat dan tidak bertindak. Kami warga Muslim hanya menginginkan perdamaian," kata salah seorang umat Muslim Mombasa usai shalat Jumat.

Makaburi masuk dalam daftar sanksi PBB karena dituding sebagai fasilitator dan perekrut para pemuda Muslim Kenya untuk menjadi anggota kelompok militan Somalia, Al-Shabaab. Selain itu, PBB meyakini Makaburi juga memiliki hubungan kuat dengan kelompok militan tersebut.

Makaburi yang berusia sekitar 50 tahun itu tak jarang secara terbuka memuji aksi para penyerang pusat perbelanjaan Westgate, Nairobi pada September tahun lalu. Serbuan itu menewaskan 57 orang setelah kelompok bersenjata menduduki mal itu selama empat hari.

Pada Agustus 2012, seorang ulama radikal Aboud Rogo Mohammed juga ditembak mati dan penerusnya, Sheikh Ibrahim Ismaili, mengalami nasib yang sama di Mombasa pada Oktober tahun lalu.

Organisai Human Right Watch (HRW) mendesak pemerintah Kenya untuk mengusut kasus pembunuhan Makaburi atau menghadai risiko memanasnya kekerasan sektarian.

"Menembak mati ulama di jalanan hanya membuat situasi lebuh buruk," kata Leslie Lefkow, wakil direktur HRW untuk wilayah Afrika.

"Pemerintah harus mengakhiri siklus kekerasan ini dan mulai mencari tahu dalag pembunuhan ini dan menghukumnya," tambah Lefkow.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber


Video Pilihan Video Lainnya >

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.