Kompas.com - 03/04/2014, 21:00 WIB
EditorErvan Hardoko
MONROVIA, KOMPAS.com - Pemerintah Liberia, Kamis (3/4/2014), mengatakan telah menemukan kasus terduga ebola yang tidak terkait dengan epidemi yang kini melanda negeri tetangganya, Guinea.

Jika kasus yang terjadi di kota Tapeta wilayah timur Liberia itu dipastikan sebagai ebola, maka kasus ini akan menjadi perkembangan buruk dalam perang melawan ebola. Selama ini, konsentrasi penanganan kasus ini difokuskan kepada mereka yang baru pulang bepergian dari Guinea, yang sudah mencatat 84 orang meninggal dunia akibat ebola.

"Kami menemukan kasus terduga ebola pertama di Tapeta. Seorang pemburu yang tak pernah berhubungan dengan orang-orang yang baru pulang dari Guinea jatuh sakit," kata seorang petugas kesehatan, Bernice Dahn.

"Dia dilarikan ke rumah sakit dan meninggal 30 menit kemudian. Dia tak pernah berinteraksi dengan siapapun yang menjadi terduga pembawa virus dan tidak pernah pergi ke Guinea. Ini adalah sebuah kasus tersendiri," tambah Bernice.

Kelelawar buah, yang diduga menjadi pembawa virus ebola, merupakan makanan khas di sejumlah wilayah Guinea, Liberia dan Sierra Leone. Pakar menduga para pemburulah yang menjadi sumber epidemi ebola ini.

Tapeta adalah sebuah kota kecil yang berjarak 400 kilometer dari pusat awal merebaknya wabah ebola di wilayah selatan Guinea.

"Pemburu itu memasang sekitar 500 perangkap di hutuan. Dia jatuh sakit di dalam hutan dan kemudian dilarikan ke rumah sakit," papar Bernice.

Dia menambahkan tujuh orang pasien baru terduga terjangkiti ebola juga mulai masuk ke rumah sakit membuat penderita penyakit ini di Liberia menjadi 14 orang.

Sejauh ini sudah enam orang meninggal dunia sejak Liberia melaporkan kasus pertama ebola bulan lalu. Dari enam korban meninggal, berdasarkan uji laboratorium dua di antaranya positif mengidap ebola.

Pasien itu adalah seorang perempuan yang meninggal dunia di sebuah rumah sakit di kota Lofa sebelah utara Liberia. Satu korban lainnya adalah adik perempuan itu yang terjangkit setelah menjenguk korban.

Perempuan yang kedua ini diperbolehkan pulang ke kediamannya di Monrovia sebelum sempat dirawat di RS Firestone. Kini keluarga kedua perempuan itu diisolasi dan diamati karena pernah berinteraksi dengan korban.

"Saya baru menerima kabar bahwa perempuan yang sempat berada di RS Firestone setelah dipastikan menderita ebola, meninggal dunia pagi ini," ujar Bernice.

Sejauh ini belum ditemukan pengobatan untuk ebola. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan tingkat kematian akibat penyakit ini di Guinea mencapai 65 persen dan virus ini biasanya menyerang warga berusia 15-59 tahun.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Video Pilihan

Sumber
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.