Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 16/08/2013, 16:14 WIB
EditorJodhi Yudono
Catatan Kaki Jodhi Yudono

kami menyusuri Nil hingga ke dermaganya,
airnya yang abadi tampak tersenyum,
tukang perahu berkulit gelap bernyanyi lirih,
perahu layar merentangkan sayapnya,
kami menangkap angin dan berlayar jauh,
Sepanjang hari hingga fajar hingga ke Timur,
di mana kehidupan pagi dan kebenaran lahir dengan suka-cita.

Along the Nile by: Henry Abbey (1842-1911)


Menyimak puisi karya penyair Amerika Henry Abbey di atas, serasa benar betapa damainya Mesir, dengan Sungai Nil yang mengalir tenang dan memberi penghidupan warganya. Dan tentu saja, merupakan pemandangan elok yang tak pernah habis dicecap oleh pelancong yang melewatinya, ya macam Tuan Henry Abbey itu.

Tapi hari ini, puisi Henry seperti tak berarti apa-apa. Sebab Mesir kini, seperti sedang mengulang kutukan yang pernah ditimpakan ke negeri itu pada zaman Musa, di mana air-air di Mesir berubah menjadi darah! Itulah yang terjadi pada Rabu, 14 Agustus 2013,  hanya dalam waktu tujuh jam saja serdadu Jenderal Al Sisi berhasil membantai ratusan rakyat Mesir dan melukai ribuan lainnya di bunderan Rab’ah Adawiyah, Nahdah, dan tempat-tempat lainnya di seantaro Mesir.

Mayat-mayat bergelimpangan bersimbah darah. Sebagian jenazah yang telah dikafankan, dijajarkan di lantai Masjid Al-Iman, Makram Abid. Duka-cita sedalam-dalamnya bagi Mesir, bagi mereka yang telah berkorban untuk pilihan yang telah diyakini.

Maka warga dunia pun tersentak, termasuk mereka yang semula diam dan hanya bisa menyaksikan kesewenang-wenangan militer terhadap sipil di negeri Mesir. Ya, termasuk Amerika yang sebelumnya tampak adem ayem, sekarang mulai berteriak mengutuk tindakan militer yang dinilainya kelewat batas. Amerika Serikat  sebelumnya mendukung pemerintah sementara Mesir. Kini, dengan tegas mengutuk aksi kekerasan yang dilakukan terhadap pemrotes dan mendesak pihak militer untuk lebih menahan diri, kata juru bicara Gedung Putih Josh Earnest.

Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), Inggris, Iran, Qatar dan Turki secara tegas juga mengutuk aksi kekerasan yang dilakukan pemerintah guna membubarkan demonstran di dua kamp protes di Kairo, lapor AFP.    

Menyaksikan Mesir hari ini, kita seperti diingatkan kembali...betapa bergelombangnya perjalanan bangsa itu. Inilah bangsa yang diberi karunia tak terhingga berupa sungai Nil yang subur dan memakmurkan, tapi di sebalik kesuburan Nil, ada juga terbentang mimpi buruk yang tiada habis-habisnya dialami bangsa Mesir.

Ya, ya... Mesir adalah sungai Nil. Lantaran sungai inilah Mesir ada. Lantaran Sungai Nil, menjadikan Mesir menjadi salah satu negara tersubur di Afrika dan juga di wilayah Mediterania. Konon, karena kesuburannya inilah Mesir menjadi tanah terawal yang dihuni oleh manusia pada 40 ribu tahun lalu. Peradaban bangsa Mesir sangat bergantung kepada kesuburan sungai Nil dengan limpahan air yang tak pernah kering meski musim kemarau tiba.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.