Kompas.com - 09/05/2013, 20:44 WIB
EditorErvan Hardoko

SEOUL, KOMPAS.com - Sebuah penghargaan yang tak lazim untuk menghargai keberanian seorang polisi lalu lintas perempuan Korea Utara, telah memicu spekulasi di berbagai media massa Korea Selatan.

Sejumlah media di Korea Selatan, Kamis (9/5/2013), menduga polisi bernama Ri Kyong Sim itu menyelamatkan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dari sebuah kecelakaan lalu lintas.

Sementara media lain berspekulasi Ri menggagalkan sebuah upaya pembunuhan terhadap pemimpin muda Korea Utara itu.

Tak banyak informasi diperoleh dari negeri yang terisolasi itu. Kantor berita Korea Utara KCNA, hanya mengabarkan Ri dianugerahi medali "Pahlawan Republik" tanpa memberi penjelasan lebih rinci.

"Ri memperlihatkan sebuah pengorbanan yang heroik untuk melindungi pemimpin revolusi dari sebuah kondisi yang tak diinginkan," demikian KCNA.

Pemimpin revolusi yang dimaksud dalam pemberitaan KCNA tak lain dan tak bukan adalah Kim Jong Un.

Medali "Pahlawan Republik" biasanya dianugerahkan untuk sebuah perbuatan heroik dalam masa perang. Meski penghargaan itu bisa diberikan kepada seseorang yang memberikan kontribusi besar untuk kemajuan negara.

Belum lama ini, semua ilmuwan dan teknisi yang terlibat dalam uji coba roket jarak jauh dan uji coba nuklir mendapatkan medali tersebut.

Namun, sekretaris jenderal Solidaritas Intelektual Korea Utara -sebuah organisasi pembelot Korut- Park Kun Ha mengatakan sangat jarang penghargaan yang sangat bergengsi itu dianugerahkan untuk seorang polisi berpangkat rendah.

"Saya menduga kejadian itu berupa percobaan pembunuhan Kim Jong Un yang disamarkan menjadi sebuah kecelakaan lalu lintas," kata Park.

Dalam siaran televisi nasional Korea Utara, ratusan tentara dan polisi lalu lintas menghadiri upacara pemberian penghargaan. Dalam upacara itu, Ri terlihat tak kuasa menahan tangis.

"Tindakan Ri tidak terjadi secara kebetulan. Tindakan beraninya muncul karena dia selalu meminta hal ini kepada pemimpin tercinta siang dan malam," kata atasan Ri dalam wawancara dengan televisi nasional.

"Ri adalah orang yang sangat bertanggung jawab. Ini menjelaskan mengapa dia bisa melakukan sebuah aksi heroik untuk keselamatan otak dari revolusi kami," kata mantan guru Ri.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Sumber
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.