Ikut Unjuk Rasa Antihijab, 29 Perempuan Iran Ditangkap - Kompas.com

Ikut Unjuk Rasa Antihijab, 29 Perempuan Iran Ditangkap

Kompas.com - 02/02/2018, 19:46 WIB
Unjuk rasa ini terjadi di sejumlah kota di Iran.Twitter/Guardian Unjuk rasa ini terjadi di sejumlah kota di Iran.

TEHERAN, KOMPAS.com — Kepolisian Iran menangkap 20 perempuan yang dituduh mengikuti aksi unjuk rasa menentang kewajiban mengenakan hijab.

Aksi protes ini diikuti para perempuan di berbagai penjuru Iran dengan cara naik ke atas boks jaringan telepon dan melepas hijab mereka, lalu melambai-lambaikannya.

Salah satu foto aksi unjuk rasa itu berasal dari kota Mashhad yang memperlihatkan seorang perempuan berhijab berdiri di atas kotak gardu jaringan telepon sambil memegang hijabnya sebagai bentuk solidaritas terhadap gerakan ini.

Pada Kamis (1/2/2018), kepolisian mengatakan, para peserta kampanye antihijab ini adalah korban hasutan dari luar Iran melalui televisi satelit.

Baca juga: Protes Aturan Hijab, Perempuan di Iran Ditangkap

"Menyusul seruan dari sebuah stasiun televisi satelit dengan nama kampanye White Wednesdays, 29 perempuan yang memutuskan melepas hijab telah ditangkap," demikian dikabarkan kantor berita Tsanim.

Sementara aksi unjuk rasa ini menjadi berita utama harian berhaluan reformis Shargh dengan judul "Reaksi terhadap dilepasnya hijab di jalan raya".

Soheila Jolodarzadeh, perempuan anggota parleman Iran, mengatakan, unjuk rasa semacam ini hanya akan memberikan waktu,

"Kondisi ini terjadi karena pendekatan kita yang salah," kata  Soheila Jolodarzadeh, perempuan anggota parleman Iran, dikutip kantor berita Ilna.

"Kita memberikan berbagai larangan terhadap perempuan dan membuat mereka hidup di bawah kekangan yang tidak perlu. Itulah sebabnya para gadis ini mengibarkan hijabnya," tambah Soheila.

Jaksa Agung Iran Mohammad Jafar Montazeri menggambarkan aksi unjuk rasa ini sebagai  sikap kekanak-kanakan, emosional, dan termakan hasutan dari luar negeri.

Masih Alinejad, aktivis dan jurnalis asal AS, memulai kampanye White Wednesdays sejak 17 Mei 2017. Tujuannya adalah mendorong para perempuan mengenakan hijab putih atau melepasnya sebagai bentuk protes.

"Pada 2014, kepolisian Iran mengumumkan mereka telah memperingatkan, menangkap, dan mengirim ke pengadilan 3,6 juta perempuan karena tak mengenakan hijab dengan semestinya," ujar Alinejad.

"Jadi penangkapan ini bukan hal baru, jika rakyat melakukan protes karena adanya tindakan keras semacam ini," tambah Alinejad.

Baca juga: Benarkah Iran Kini Miskin, Tidak Stabil, dan Penuh Konflik?

Pemerintah Iran kemudian menuduh Masih Alinejad menerima uang dari negara asing untuk membiayai dua kampanye  antihijabnya.

Alinejad membantah tuduhan itu dan mengatakan, meski dia bekerja untuk Suara Amerika (VOA) yang didanai Pemerintah AS, dia tak pernah menerima uang untuk membiayai aktivitasnya.


EditorErvan Hardoko
Komentar

Close Ads X