Apakah Hillary Mau Capres Lagi di Tahun 2020? - Kompas.com

Apakah Hillary Mau Capres Lagi di Tahun 2020?

Kontributor Singapura, Ericssen
Kompas.com - 12/09/2017, 13:43 WIB
Hillary Clinton AFP/JEWEL SAMAD Hillary Clinton

NEW YORK, KOMPAS.com - Mantan Calon Presiden (Capres) Amerika Serikat (AS dari Partai Demokrat, Hillary Clinton, mengakhiri spekulasi berkepanjangan mengenai masa depan politiknya.

Berbicara kepada CBS seperti dikutip harian The Washington Post, Hillary menyatakan karir politiknya sudah berakhir.

“Saya sudah selesai menjadi capres, menjadi seorang politisi aktif,” ucapnya terkait dengan pertarungan pada saat Pilpres AS 2016.

Namun, mantan Menteri Luar Negeri AS itu menyatakan bukan berarti dia akan berhenti berpartisipasi di dunia politik.

“Saya tetap akan berada di dunia politik karena saya percaya masa depan negara ini berada dalam keadaan yang kritis”.

Hillary percaya, dia perlu mempersiapkan regenerasi pemimpin-pemimpin muda di Partai Demokrat.

Baca: Hillary: Ucapan Selamat ke Trump adalah Hal Teraneh di Hidup Saya

Politisi berusia 69 tahun itu mengakui 10 bulan setelah kekalahan mengejutkannya dari Donald Trump, dan rasa sakit itu masih melekat.

Hillary mengatakan dia sudah move on namun tentunya kepedihan dari kekalahan menyakitkan itu tidak menghilang begitu saja.

“Saya baik-baik saja, namun tentunya itu masih sangat menyakitkan”.

Dia juga mengkritik pedas kepresidenan Trump. “Kita punya acara reality show yang akhirnya mengirim pembawa acaranya ke Gedung Putih.”

Hillary juga mengakui kesalahan terbesarnya yang menyebabkan kekalahannya adalah penggunaan email pribadinya ketika menjabat sebagai menlu.

Pernyataan Hillary mengakhiri spekulasi mengenai apa yang akan dilakukan wanita yang sudah menghiasi wajah perpolitikan AS selama 40 tahun ini.

Tidak sedikit yang menduga Hillary masih berambisi menjadi capres di tahun 2020. Ada juga rumor yang menyebutkan dia akan maju sebagai wali kota New York.

Baca: Donald Trump dan Hillary Clinton Beda Pandangan Terkait

Hillary dijadwalkan meluncurkan memoar-nya berjudul “What Happened” pada Selasa (12/9/2017).

Difavoritkan sejak lama untuk menjadi presiden wanita pertama AS, rupanya Hillary tidak kuasa melawan kemarahan pemilih AS terutama pemilih Pekerja Berkerah Biru ("Blue Collar").

Pemilih yang berbasis di Pennsylvania, Wisconsin, dan Michigan atau sering disebut Rust Belt States ini mengubur mimpi Hillary dengan kombinasi kekalahan selisih suara sangat tipis, yakni hanya 107.330 suara.

Hasil yang ironis itu tak mungkin terjadi mengingat tiga negara bagian ini rutin memilih capres dari Partai Demokrat dalam tujuh pilpres terakhir.

Pemilih ini adalah pemilih kelas pekerja yang terpikat oleh gaya retorik populis Trump yang mengecam globalisasi dan perdagangan bebas.

Faktor itu yang diyakini mengakibatkan mereka kehilangan pekerjaan, terutama di sektor manufaktur yang dialihdayakan ke luar AS.

Baca: Donald Trump Sebut Hillary Clinton Sebagai Pendiri ISIS

PenulisKontributor Singapura, Ericssen
EditorPascal S Bin Saju
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM