Junta Militer Bantu Yingluck Keluar dari Thailand, Benarkah? - Kompas.com

Junta Militer Bantu Yingluck Keluar dari Thailand, Benarkah?

Kontributor Singapura, Ericssen
Kompas.com - 29/08/2017, 12:15 WIB
Yingluck ShinawatraAFP Yingluck Shinawatra

 

BANGKOK, KOMPAS.com - Junta militer Thailand dibuat kebakaran jenggot oleh kabar yang beredar bahwa sesungguhnya telah ada perjanjian rahasia antara mereka dengan mantan Perdana Menteri (PM) Thailand, Yingluck Shinawatra.

Rumor politik yang berseliweran menyebutkan, junta sepakat membiarkan Yingluck untuk melarikan diri dari Thailand sepanjang klan Shinawatra tidak lagi beraktivitas di ranah perpolitikan "Negeri Gajah" itu.

Jurubicara junta Kolonel Winthai Suvaree menegaskan, junta tidak pernah membiarkan Yingluck lolos begitu saja, demikian Straits Times melaporkan pada Selasa (29/8/2017).

Sejauh ini junta yang dipimpin Jenderal Prayuth Chan-o-cha itu menerima banyak kritik pedas setelah Yingluck menghilang bak ditelan bumi di hari ketika vonis hukumannya akan dijatuhkan.

Baca: Yingluck Dikabarkan Berada di Dubai, Bergabung dengan Thaksin

Teori konspirasi ini semakin mengencang karena Yingluck selalu dijaga ketat oleh polisi yang tidak berseragam.

Menjadi sangatlah tidak masuk akal bagaimana mungkin seseorang yang dijaga dengan superketatnya dapat meninggalkan Thailand begitu mudahnya.

Salah satu sumber yang dekat dengan keluarga Shinwatra memberitahu kepada Bangkok Post,  Yingluck berhasil mendapatkan paspor Kamboja yang membantunya melarikan diri dari Bangkok ke Kamboja.

Dia kemudian terbang dengan menggunakan jet pribadi dari Kamboja ke Singapura. Di Singapura dia dijemput abang kandungnya mantan PM Thaksin Shinawatra.

Kedua orang itu kemudian terbang dengan jet pribadi menuju Dubai, Uni Emirat Arab ( UEA), tempat pengasingan Thaksin, abang kandung Yingluck.

Baca: Bagaimana Nasib Mantan PM Thailand Yingluck Shinawatra

Perdana Menteri Kamboja Hun Sen yang dekat dengan keluarga Shinawatra telah membantah rumor itu.

Sementara itu otoritas Imigrasi Singapura (ICA) menolak mengomentari isu ini.

Salah satu tangan kanan Yingluck mengutarakan, PM perempuan pertama Thailand itu pada awalnya tidak berencana melarikan diri.

Namun akhirnya dia memutuskan untuk kabur di menit-menit terakhir setelah mendengar kabar bahwa pengadilan akan menjatuhkannnya hukuman yang sangat berat.

“Dia adalah perencana yang hati-hati, ini keputusan mendadak,” ucap yang bersangkutan.

Yingluck yang berkuasa dari 2011-2014 menghadapi ancaman hukuman 10 tahun penjara dan larangan berpolitik seumur hidup, karena kelalaian dalam program subsidi bagi masyarakat desa.

Pemerintahannya berakhir setelah digulingkan oleh kudeta militer pada tahun 2014.

Baca: PM Hun Sen Bantah Yingluck Singgah di Kamboja sebelum ke Dubai

PenulisKontributor Singapura, Ericssen
EditorPascal S Bin Saju
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM