Saat Pemuka Agama Indonesia Belajar Toleransi ke Singapura - Kompas.com

Saat Pemuka Agama Indonesia Belajar Toleransi ke Singapura

Kontributor Singapura, Ericssen
Kompas.com - 15/07/2017, 18:58 WIB
Wakil Menteri Luar Negeri A.M. Fachir berbicara di tengah acara dialog antaragama dan antarbudaya Indonesia-Singapura, Jumat (15/07/2017), di Hotel Furama RiverFront, Singapura. Ericssen Wakil Menteri Luar Negeri A.M. Fachir berbicara di tengah acara dialog antaragama dan antarbudaya Indonesia-Singapura, Jumat (15/07/2017), di Hotel Furama RiverFront, Singapura.

SINGAPURA, KOMPAS.com - Suasana sejuk dan adem terasa di ruangan grand ballroom Hotel Furama RiverFront, Singapura, Jumat (14/07/2017), ketika tokoh-tokoh berbagai agama dari Indonesia dan Singapura berkumpul bersama.

“Saya terkejut dan terkesan. Masjid Ba’alwie rupanya menyimpan alkitab yang sudah berusia ratusan tahun,” kata Arif Zamhari, perwakilan Nahdlatul Ulama saat menyatakan kesan yang paling mengena selama empat hari perhelatan dialog antaragama dan antarbudaya kedua negeri jiran itu.

Masjid Ba'alwie di Singapura terkenal karena keterbukaannya. Di tempat itu kerap diselenggarakan dialog lintas agama.

Habib Hassan Al-Attas, imam Masjid Ba'alwie yang juga salah satu ulama terpandang di Singapura menyatakan, Masjdi Ba’alwie juga menyimpan koleksi kitab suci agama lain.

“Saya percaya ini bukan hanya simbolik, mempelajari agama lain memberikan kita kepercayaan diri untuk menjalankan ibadah yang kita percaya, serta memperkokoh keyakinan kita. Saya percaya setiap agama baik, ingin mengarahkan dan menyatukan umat," tutur Habib.

Acara yang merupakan bagian dari rangkaian peringatan pesta emas 50 tahun, “ Rising 50”, hubungan diplomatik Indonesia dan Singapura itu diwarnai siraman pujian dari delegasi Indonesia ke Singapura dan sebaliknya.

Ketua Asosiasi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) se-Indonesia Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet menyampaikan kekagumannya terhadap damainya kehidupan beragama di Singapura.

“Mungkin ada yang bertanya Indonesia mempunyai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, kenapa kita harus datang ke Singapura untuk mempelajari toleransi beragama. Ya jawabannya karena terbukti sistem integrasi Singapura sukses,” tutur Ida yang mewakili agama Hindu itu.

Delegasi percaya ada banyak hal yang bisa dipelajari dari kedua negara. Delegasi menekankan jangan sampai acara ini menjadi “forum saling mengagumi” yang hanya bersifat seremonial.

Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia A.M. Fachir yang juga merupakan inisiator acara berharap perhelatan pertama ini kembali dilanjutkan tahun depan.

Ada juga terlontar rencana untuk menggelar youth camp antara kedua negara yang dihadiri sosok-sosok muda dari setiap agama.

Fachir menekankan di tengah meningkatnya ekstremisme, radikalisasi dan xenophobia, sangatlah penting untuk menjangkau generasi muda yang merupakan target ekstremisme.

Pernyataan Fachir diamini Menteri Koordinator Infrastruktur Singapura Khaw Boon Wan yang menilai pemerintah maupun generasi tua harus menyesuaikan diri dengan menggunakan “bahasa anak muda” untuk mendekati generasi y dan generasi z.

Toleransi antar umat beragama bukanlah isu yang sepele dan tidak boleh dipandang sebelah mata seakan-akan semuanya aman dan damai.

Duta Besar Indonesia untuk Singapura Ngurah Swajaya menyebut perhelatan ini merupakan pengalaman nyata yang sangat baik bagi kedua negara di tengah semakin sensitifnya isu agama.

Adapun delegasi Indonesia diwakili oleh Sekjen Muhammadiyah Abdul Mu’ti, tokoh muda NU Arif Zamhari mewakili agama Islam, Pendeta Martin Lukito Sinaga mewakili agama Kristen Protestan, Romo Agustinus Ulahayanan Pr yang juga Sekretaris Komisi Hubungan Antar Umat Beragama (HAK) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) mewakili agama Katolik, Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet mewakili agama Hindu, dan Bhikkhu Jayamedo mewakili agama Buddha.

PenulisKontributor Singapura, Ericssen
EditorHeru Margianto

Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM