Australia Bentuk Divisi Siber Militer untuk Hadapi ISIS dan Peretas - Kompas.com

Australia Bentuk Divisi Siber Militer untuk Hadapi ISIS dan Peretas

Kompas.com - 01/07/2017, 08:54 WIB
ABC Australia Neil Prakash, seorang anggota ISIS asal Melbourne mengajak pengikutnya menyerang Australia.

MELBOURNE, KOMPAS.com - Australia menciptakan divisi siber militer untuk pertama kalinya guna memperluas aksi menghadapi serangan kalangan peretas dan musuh-musuh asing, termasuk kelompok teroris.

Menteri Pembantu Perdana Menteri Australia untuk Keamanan Siber, Daniel Thomas Tehan, Jumat (30/6/2017), mengatakan, "Ini adalah hasil dari perubahan karakter konflik kontemporer."

Divisi baru yang dikenal sebagai Divisi Informasi Perang itu, menurut Thomas,  akan memungkinkan Australia untuk meningkatkan jenis serangan siber terhadap kelompok teroris Negara Islam di Irak dan Suriah ( ISIS).

Baca: Australia Bentuk Satuan Intelijen Siber untuk Telusuri Sumber Dana Teroris

Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull tahun lalu mengatakan, serangan siber terhadap ISIS telah membuat kontribusi yang berharga dalam upaya mengendorkan pengaruh kelompok militan itu di Suriah dan Irak.

Serangan siber melengkapi serangan udara dan serangan perang lain yang merupakan bagian dari peran Australia dalam koalisi yang pimpinan Amerika Serikat (AS) untuk memerangi kelompok IS, kata Menteri Pertahanan Personal di Australia itu.

Tehan, yang juga Menteri Urusan Veteran, menekankan bahwa divisi baru itu juga akan bertanggung jawab untuk melindungi angkatan bersenjata Australia dari serangan siber, sebagaimana dikutip kantor berita Reuters.

Instansi lain dalam Pemerintahan Autstralia juga akan memperluas aksinya dari pertahanan ke serangan siber terhadap penjahat di luar wilayah “Negeri Kanguru” itu.

Baca: Peretas Curi Data dari Jaringan Komputer Pemerintah Australia

Langkah tersebut terjadi di tengah gelombang serangan siber global, termasuk satu serangan program jahat komputer yang menyandera dokumen korban dengan algoritma enkripsi khusus yang dimintai tebusan (ransomware) jenis Petya dari Ukraina pekan ini, dan serangan ransomware WannaCry di bulan Mei 2017 yang menginfeksi komputer di lebih dari 100 negara.

Australia telah berhasil lolos dari kerugian yang signifikan akibat serangan itu, meskipun Tehan mengatakan bahwa dampak global menunjukkan keperluan membawa pertempuran siber dengan para peretas asing.

"Kita harus memastikan bahwa kita menjaga para ibu dan ayah, usaha kecil, bisnis besar, pemerintahan, departemen dan lembaga, tetap aman di negara ini," denikian Daniel Thomas Tehan.

Baca: Atasi ISIS, Australia Jajaki Kerja Sama Siber dengan Indonesia

EditorPascal S Bin Saju
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM