Rusia Gelar Latihan Perang Besar-besaran di Semenanjung Crimea - Kompas.com

Rusia Gelar Latihan Perang Besar-besaran di Semenanjung Crimea

Kompas.com - 21/03/2017, 07:33 WIB
Getty/Independent Sejumlah kapal perang dan helikopter militer Rusia dalam latihan di Semenanjung Crimea pada September 2016.

MOSKWA, KOMPAS.com - Rusia menggelar latihan gabungan angkatan darat, laut, dan udara yang diikuti ribuan personel di Semenanjung Crimea, akhir pekan lalu.

Ini adalah kali pertama dalam sejarah angkatan bersenjata Rusia menggelar latihan gabungan besar-besaran.

Penanggung jawab latihan gabungan, Kolonel Jenderal Andrei Serdyukov mengatakan, latihan tersebut dipicu meningkatkan ancaman terorisme di kawasan tersebut.

Latihan gabungan ini diikuti 2.500 personel pasukan payung dan sebanyak 600 peralatan perang dikerahkan ke Crimea yang dianeksasi Rusia pada Februari 2014.

Dalam latihan ini, pasukan Rusia akan mempraktikkan operasi pendaratan amfibi dan penerjunan pasukan serta latihian menembak dalam operasi ofensif dan defensif.

NATO menyebut latihan ini ilegal karena Rusia tidak mengumumkan terlebih dahulu rencana latihan besar-besaran itu dan digelar di wilayah yang menurut NATO direbut Rusia secara tidak sah.

"Setiap latihan militer di wilayah pendudukan Crimea adalah ilegal di bawah hukum internasional dan karena mereka tidak memberitahukan pemerintah Rusia," ujar juru bocara NATO, Oana Lungescu.

"Sejak 2014, aktivitas militer Rusia di kawasan Laut Hitam meningkat signifikan. Pengembangan militer Rusia di Crimea memberikan ancaman terhadap stabilitas regional dan keamanan dunia," tambah Lungescu.

Sebagai respon atas meningkatnya kegiatan militer Rusia itu, Lungescu menambahkan, NATO memutuskan untuk meningkatkan kehadirannya di kawasan yang sama.

"Hal ini dilakukan sebagai bentuk pertahanan dan dengan cara yang proporsional serta sejalan dengan kewajiban internasional kami," lanjut Lungescu.

Latihan militer Rusia ini digelar di tengah terus ditambahnya personel militer Eropa dan Amerika Utara di sepanjang perbatasan NATO dengan Rusia.

Mulai bulan depan, sebuah batalion pimpinan AS dengan 1.000 personel akan dikerahkan ke Polandia.

Sementara Inggris, Kanada, dan Jerman memimpin tiga batalion tempur lainnya di Estonia, Latvia, dan Lithuania yang akan beroperasi pada Juni mendatang.

Sehingga nantinya akan terdapat sedikitnya 4.000 personel militer NATO yang dilengkapi tank, kendaraan lapis baja, dukungan udara, dan ruang informasi canggih yang akan memantau berbagai ancaman dari militer Rusia.

 

EditorErvan Hardoko
SumberIndependent,
Komentar