Selasa, 28 Maret 2017

Internasional

Kamboja Bekukan Praktik Ekspor Susu Manusia ke AS

Senin, 20 Maret 2017 | 19:03 WIB
JuFagundes/iStockphoto Air susu ibu

PHNOM PENH, KOMPAS.com - Otoritas di Kamboja membekukan praktik ekspor susu manusia ke Amerika Serikat, yang dilakukan sebuah perusahaan AS yang berpusat di Utah.

Perusahaan itu mendapatkan produk air susu ibu (ASI) dari kaum perempuan menyusui di Kamboja.

Investigasi yang dilakukan AFP mengungkap, para wanita miskin di negara itu menutupi kebutuhan mereka dengan menjual air susunya, agar memperoleh uang.

Chea Sam, seorang ibu berusia 30 tahun, mengaku sudah menjual air susunya selama tiga bulan terakhir, menyusul kelahiran anak laki-lakinya.

"Saya memompa ASI enam hari seminggu, dan saya bisa mendapatkan uang antara 7,5-10 dollar AS per hari, jumlahnya tergantung kuantitas dan kualitas ASI yang saya setor," kata dia.

"Saya miskin, dan penjualan ASI ini sangat membantu keuangan saya," sambung dia.

"Kami semua menangis ketika perusahaan itu mengumumkan adanya pembekuan usaha. Kami ingin bisnis itu bisa segera kembali," ungkap Sam.

Menurut Sam, para ibu yang biasa menjual ASI di tempat itu telah diberitahu bahwa bisnis tersebut sedang dibekukan.

Namun, wanita itu mengaku tak tahu alasan penghentiannya.

Sam mengaku mengenal setidaknya 20-an ibu yang menghasilkan uang dengan menjual ASI mereka.

Percakapan dengan Sam diperoleh pekan lalu, ketika AFP mengunjungi kantor Ambrosia Labs -perusahaan pengekspor ASI tersebut.

Kantor Ambrosia Labs tersebut berada di Stung Meanchey, sebuah kawasan miskin di pinggiran Ibu Kota Phnom Penh.

Saat didatangi, kantor yang menggunakan nama Khun Meada itu tertutup.

Sementara, Ambrosia Labs yang berpusat di Utah mengklaim sebagai perusahaan pertama di dunia yang melakukan bisnis semacam itu.

Pangsa pasar susu manusia ini adalah para ibu yang ingin melengkapi program diet untuk bayi mereka, atau para ibu yang kekurangan produksi ASI.

ASI tersebut dikumpulkan di Kamboja, dibekukan, dan kemudian dikirim ke AS.

Di AS, produk tersebut di-pasteurisasi, sebelum dijual seharga 20 dollar AS atau kira-kira Rp 270 ribu, untuk satu pak berukuran 147ml. 

Pasteurisasi adalah sebuah proses pemanasan makanan dengan tujuan membunuh organisme merugikan seperti bakteri, protozoa, kapang, dan khamir.

Selain itu proses ini adalah untuk memperlambatkan pertumbuhan mikroba pada makanan.

Proses ini diberi nama atas penemunya Louis Pasteur seorang ilmuwan Perancis.

Dibekukan

Kini usaha ekspor tersebut terganggu. Aparat Bea dan Cukai Kamboja mengonfirmasi pembekuan bisnis itu, Senin (20/3/2017).

"Kami sudah meminta kepada pihak perusahaan untuk mencari ijin dari Kementerian Kesehatan," kata Kun Nhem, Direktur Jenderal Bea Cukai Kamboja.

"Sebab, barang yang mereka perdagangkan berasal dari organ manusia, sehingga produk itu membutuhkan ijin dari Kemenkes. Mereka belum memiliki ijin tersebut," kata Nhem.

Nhem mengatakan, Pemerintah Kamboja pun telah berencana untuk menyusun regulasi khusus tentang produk ini.

"Sebab produk ini agak sensitif," kata dia lagi.

Hingga saat ini, Kamboja masih dikenal sebagai salah satu negara miskin di Asia.

Rata-rata pendapatan tahunan per orang di negara itu hanya 1.160 dollar AS, atau kira-kira Rp 15,5 juta.

Terkait kabar ini, pihak Ambrosia Labs tidak memberikan tanggapan atas permintaan wawancara.

Namun dalam sebuah wawancara dengan seorang wartawan Vice.com yang bertugas di Kamboja pekan lalu, co-founder perusahaan itu Bronzson Woods, mengaku akan mempertahankan bisnis ini.

Dia mengaku mendapatkan ide bisnis tersebut ketika bertugas di Kamboja, sebagai misionaris untuk Gereja Mormon.

Menurut dia, bisnis ini mendorong para ibu menyusui untuk terus menyusui dan memproduksi ASI, demi mendapatkan penghasilan yang stabil.

Dalam sebuah video yang diunggah ke jejaring Youtube, dengan akun "Khun Meada", seorang lelaki barat mengidentifikasi diri sebagai "ayah" Bronzson Woods, meminta Pemerintah Kamboja meninjau kebijakan pembekuan itu.

Kementerian Kesehatan Kamboja belum memberikan tanggapan atas permintaan wawancara yang telah diajukan. 

Editor : Glori K. Wadrianto