Misi Bluefin-21 Selesai, Jejak Pesawat Malaysia Airlines yang Hilang Tetap Tak Terlacak - Kompas.com

Misi Bluefin-21 Selesai, Jejak Pesawat Malaysia Airlines yang Hilang Tetap Tak Terlacak

Kompas.com - 29/05/2014, 14:39 WIB
AFP Bluefin-21, sebuah perangkat sonar sepanjang 4.93 meter, akan segera diturunkan ke bawah laut untuk mencari kotak hitam MH370.

CANBERRA, KOMPAS.com — Pencari pesawat Malaysia Airlines berkode penerbangan MH370 yang hilang, Kamis (29/5/2014), menyatakan bahwa area yang sebelumnya disebut sebagai sumber sinyal akustik yang diduga berasal dari kotak hitam pesawat itu telah mereka coret dari daftar kemungkinan lokasi Boeing 777-200ER itu berakhir.

Pencarian di lokasi itu menggunakan robot bawah laut, tak mendapatkan jejak apa pun dari pesawat tersebut. Misi Bluefin-21, nama alat itu, berakhir pada Rabu (28/5/2014), setelah menjelajahi area seluas 850 kilometer persegi, berdasarkan pernyataan dari tim gabungan pencarian di Australia, Kamis.

"Daerah ini sekarang dapat diabaikan sebagai tempat peristirahatan terakhir pesawat yang hilang," kata pusat koordinasi pencarian itu, dalam pernyataannya, Kamis. Dengan perkembangan ini, pencarian pun akan dihentikan sementara untuk beberapa bulan ke depan, sampai peralatan dengan kemampuan pelacakan yang lebih canggih tiba di Australia.

Alat yang ditunggu kedatangannya memiliki kemampuan jelajah lebih luas. Analisis data satelit memperkirakan area pencarian akan mencapai luas 56.000 kilometer persegi di perairan Samudra Hindia di sisi barat Australia. Pesawat ini hilang sejak 8 Maret 2014, dengan 239 orang penumpang dan awak di dalamnya.

Bukan "ping" dari kotak hitam

Saat putus komunikasi dengan menara kontrol dalam penerbangan dini hari rute Kuala Lumpur-Beijing, pesawat itu diyakini berbelok tajam ke arah Samudra Hindia, merunut data satelit. Berdasarkan perhitungan kecepatan dan cadangan bahan bakar di pesawat, penerbangan tersebut berakhir di ujung selatan Samudra Hindia di sisi barat Australia tersebut.

Pernyataan tim gabungan ini muncul setelah sebelumnya pada Kamis pagi Angkatan Laut Amerika Serikat menolak pendapat dari ahli Amerika soal sinyal "ping" yang menjadi dasar pencarian di kawasan itu.

Ahli tersebut, Wakil Direktur Sipil untuk Teknik Kelautan Angkatan Laut Amerika Serikat Michael Dean mengatakan, sinyal "ping" itu yang terdengar pada April 2014 tersebut tidak berasal dari kotak hitam pesawat yang hilang.

Berbicara kepada CNN, Dean mengatakan, sebagian besar negara sekarang sepakat bahwa suara "ping" yang terdeteksi oleh pelacak lokasi "ping" milik Angkatan Laut AS itu berasal dari sumber buatan manusia yang tak terkait dengan pesawat jet yang hilang.

"Komentar Mike Dean ini sangat spekulatif dan prematur. Karena itu kami terus bekerja sama dengan mitra kami untuk lebih teliti memahami data yang didapat Pinger Locator," kata Juru Bicara Angkatan Laut AS Chris Johnson dalam pernyataannya, merujuk pada pencarian yang dimotori Malaysia dan Australia. Dean yang berbasis di Washington, belum dapat dikonfirmasi soal sanggahan ini.

Sementara itu, tim pencari gabungan juga menolak berkomentar soal kesimpulan yang mereka rilis. Lokasi pencarian berikutnya juga belum ditentukan. "Akan diumumkan pada waktunya," ujar mereka soal lokasi pencarian berikutnya.

Empat "ping"

Sebelumnya, para pejabat menyatakan bahwa ada empat serial "ping" yang terpantau. Sinyal itu pun kemudian menjadi petunjuk yang menentukan "batas" lokasi pencarian. Menurut mereka, sinyal tersebut terlihat konsisten dengan sinyal serupa dari kotak hitam pesawat.

Namun, baterai kotak hitam dipastikan hanya punya cadangan daya untuk tenggat satu bulan. Karenanya, pelontar sinyal dari kotak hitam pun diyakini sudah padam sekarang.

Pada awal pekan ini, Pemerintah Malaysia merilis data mentah satelit yang sejak awal menjadi penentu lokasi pencarian besar-besaran di Samudra Hindia. Data itu merupakan catatan "jabat tangan" satelit Inmarsat dengan peralatan elektronik di pesawat.

Meski menjadi bentuk pemenuhan tuntutan transparansi, dokumen berisi 45 lembar data log komunikasi itu menurut para pakar tak akan bisa memecahkan misteri hilangnya pesawat ini.

Spekulasi pun terus berpusar antara pembajakan atau pilot pesawat melakukan aksi bunuh diri.
Keluarga korban cenderung menjadi sangat kritis terhadap Pemerintah Malaysia, ditunjang tak kunjung ditemukannya satu pun puing pesawat.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorPalupi Annisa Auliani
Komentar

Close Ads X