Sabtu, 20 September 2014

News / Internasional

Situasi Mesir Tegang

Selasa, 25 Juni 2013 | 07:39 WIB
MOHAMMED AL-SHAHED / AFP Seorang warga Koptik bersiap melemparkan batu ke arah kerumunan orang dalam bentrokan yang terjadi di dekat Katedral Koptik Santo Markus, Kairo, usai misa pemakaman empat warga Koptik yang tewas dalam bentrok sektarian di negeri itu.
KAIRO, KOMPAS.COM - Situasi politik Mesir kembali tidak menentu. Keadaan di Kota Kairo dan kota besar lainnya mulai terasa tegang menjelang rencana kubu oposisi menggelar unjuk rasa besar-besaran untuk menjatuhkan Presiden Mesir Muhammad Mursi pada 30 Juni.

Mengantisipasi hal itu, Mursi mengadakan pertemuan mendadak dengan Menteri Pertahanan Abdel Fattah Sisi hingga Minggu (23/6) malam. Diduga pertemuan Mursi-Sisi itu membahas kemungkinan militer menjadi mediator antara pemerintah dan kubu oposisi.

Pihak militer kini tengah mempertimbangkan menggelar konferensi rekonsiliasi nasional pekan ini untuk mencegah konflik horizontal antara massa pendukung pemerintah dan oposisi.

Wartawan Kompas Musthafa Abd Rahman dari Kairo, Mesir, melaporkan, Kedutaan Besar RI di Kairo meminta seluruh warga negara Indonesia di Mesir tidak keluar rumah kecuali untuk kepentingan mendesak, terhitung mulai 27 Juni, untuk menghindari kemungkinan terburuk. Diperkirakan terdapat 6.000 WNI di Mesir, sebagian besar mahasiswa Universitas Al Azhar, Kairo.

Dalam upaya menjatuhkan pemerintahan Mursi, kubu oposisi telah mengumpulkan 15 juta tanda tangan di seantero Mesir yang meminta Mursi mundur. Kubu oposisi masih terus mengumpulkan tanda tangan tambahan.

Bagi kubu oposisi, pengumpulan 15 juta tanda tangan itu cukup sebagai legitimasi untuk menjatuhkan Mursi. Kubu oposisi menganggap Mursi dalam pemilihan presiden pada Juni 2012 hanya mendapatkan 13 juta suara, kurang dari 15 juta tanda tangan yang meminta Mursi mundur. Tuntutan utama kubu oposisi adalah segera digelar pemilu presiden dini. Banyak warga Mesir kecewa karena tidak ada perbaikan kondisi ekonomi dan keamanan selama satu tahun pemerintahan Mursi.

Kubu oposisi mulai mendirikan tenda di Alun-alun Tahrir dan di depan gedung Kementerian Pertahanan di distrik Abbasiah, sebagai tanda dimulainya unjuk rasa. Aktivis oposisi itu bertekad tidak meninggalkan tenda sebelum Mursi jatuh.

Sebaliknya, kubu Islamis, Jumat lalu, menggelar unjuk rasa besar-besaran untuk mendukung Mursi di bundaran Rabaah Adawiyah, Nasr City, Kairo. Unjuk rasa itu merupakan unjuk kekuatan pendukung Mursi sebelum unjuk rasa oposisi. Kubu Islamis berencana kembali menggelar unjuk rasa besar-besaran pada 28 Juni.

Gejala mobilisasi massa dari kedua pihak memunculkan kecemasan terjadinya konflik horizontal antara pendukung pemerintah dan oposisi. Hal itu memaksa Abdel Fattah Sisi untuk pertama kalinya mengultimatum pemerintah dan kubu oposisi agar tercapai kesepahaman nasional pekan ini.

Editor : Egidius Patnistik
Sumber: Kompas Cetak